iklan

iklan

Selasa, 18 Februari 2020

KAMU SOLAT ATAU SENAM LANTAI...!!! BADE KITU WAE...??? Baca Disini Apa Bedanya...!!! Biasakan Baca sampai selesai biar tidak GAGAL faham...!!!




      Menurut Islam seorang anak itu mulai diajarkan sholat ketika mulai berumur 7 tahun. Pada saat itu dengan tertatih tatih mulai dikenalkan bagaimana menegakan shalat secara ilmu fiqih. Bagaimana cara shalat secara fiqih bisa dibaca pada buku buku pedoman shalat.
Adapun Hakikat Sholat.
Tasawuf sumbernya ada 3 macam (tasawuf indal akhlaq wal adab, tasawuf indal Fuqaha, tasawuf indal ahlil Ma’rifat ) Ini yang perlu diketahui. Tasawuf indal akhlaq wal adab bisa kita terapkan sedini mungkin untuk anak-anak kita. terutama makan dengan tangan kanan, masuk kamar mandi dengan kaki kiri, keluar kaki kanan ini tasawuf akhlak wal adab. Karena sumbernya tasawuf adalah min akhlaq wal adab, dari pekerti dan tatakrama.
Yang kedua adalah tasawuf indal fuqaha: bagaimana fiqih ini tidak berhenti hanya secara fiqhiah belaka. Contoh orang kalau sudah menjalakan wudhu mau sholat, setelah dipake shalat wudhunya kemana? Selesai kan?! Nah orang tasawuf tidak mau. Tasawuf menuntut sejauh mana anda membawa wudhu ini terlepas daripada kefardhuan yang sudah anda laksanakan. Apakah anda wudhu didalam shalat hanya terikat oleh syarat-syarat atau hukum-hukum syari’at. Anda dituntut oleh ulama tasawuf agar wudhumu bisa mewudhui bathiniah Anda atau tidak. Dan seterusnya. Disinilah hebatnya ilmu tasawuf.
Tasawuf i dan ahli ma’rifat, nah disni banyak orang terjebak. Dalam dunia tasawuf, dalam ilmu ma’rifat mereka yang perbendaharaannya belum mumpuni, belum mencukupi seringkali terjebak. Akhirnya dia memunculkan analis-analis, seolah-olah tasawuf berbau Budha tasawuf, berbau Hindu. Karena apa? Mereka tidak tahu. Ilmu ma’rifatnya saja mereka tidak mengerti, apa sebetulnya ma’rifat itu. Dari kekosongan itu, mereka belajar menganalis tasawuf; orang-orang yang sudah ahli Marifat, tinggi sekali, dengan bahasanya yang luar biasa. Wong dalam Tasawuf fuqaha saja mereka sudah tidak bisa memahami. Contoh Imam Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad al Ghazali menjawab dunia falsafah, menjawab dunia tauhid aliarn ilmu kalam pada waktu berkembang macem-macem faham. Dijawab dengan tasawuf fuqaha, yaitu dengan munculnya ‘Ihya Ulumiddin’. Mengapa dalam kitab Ihya ulumiddin banyak hadits – hadits maudhu’ disamping dhaif. Karena apa? Pendapatnya ahli falasifah dijawab oleh Imam Al Ghazali dengan hadits yang maudhu saja, masih lebih baik haidits maudhu’ daripada pendapat-pendapat kaum falasifah. Masih tepat, karena apa? Walaupun ini maudhu, tapi yang menggunakannya adalah orang-orang yang mengerti ma’rifat kepada Allah. Makanya disini digunakan oleh Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali.
SHOLAT SESUAI ILMU TASAWUF
menurut ilmu tasawuf, maka apabila orang itu sholat walau dg sarat rukunnya tapi dia makan barang haram, dan melakukan segala perbuatan tercela, seperti sombong zina, membunuh, membicarakan kejelekan orang, mengadu domba, melakukan riba, minum arak, dan perbuatan dosa yang lain maka sholatnya tak sah, dalam artian tidak menerima pahala, atau makin sholat makin menjadi-jadi dosanya.
SHOLAT DALAM PANDANGAN AHLI SUFI
· Takbirotul Ihram
Di sini maksudnya, berpisah dari Alam Mulki dan fanalah hamba. ketika mengucapkan ‘Allahu Akbar’. Hanya sifat ‘yang menyembah’ saja yang tinggal sebagai penzohiran. wujud Alloh ‘Yang Disembah’. Ia bergerak dengan gerak Allah. Ia berkata-kata dengan kata-kata Allah. Takluknya dalam rahasia Titik bagi Alif – ‘Tiada’. Seperti kata Abu Yazid Busthomi, “Ariftu Robbi bi Robbi’. (Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku).[4]
· Membaca Fatihah
Ketika membaca Fatihah, terbukalah Pintu Alam Malakut bagi ‘yang menyembah’. Dia menyaksikan kalimat Allah melalui penyingkapan (syuhud) akan firman Allah; “Maliki yaw middin” di dalam Kerajaan Allah Ta’ala. Dari takluknya ‘Tiada’ ia menjadi Titik dari NurNya (Nur Muhammadi) . Dengan Nur Muhammad inilah ‘yang menyembah’ mengenal dirinya ‘man arofa nafsahu’ – sebagai ‘Ruh-Nya’ yang pernah dihimpunkan di Alam Lahut semasa Adam baru sempurna kejadiannya, yakni ketika Jibril menepuk tulang sulbi Adam, maka keluarlah semua ruh anak cucu Adam dari tulang sulbi Adam itu.
Adapun ‘Ruh-Nya’ itu pada hakikatnya adalah satu jua, yaitu daripada Sirulloh.Ruh anak cucu Adam itu hanyalah bayangan (menumpang) dari Ruh-Nya.Tanpa hadirnya Nur Muhamad, ‘yang menyembah’ tak mungkin bisa berhadap di depan Allah Ta’ala. Dengan perwujudan Nur Muhammad inilah maka ‘yang menyembah’ …. “ Kepada Engkaulah kami sembah dan kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan mereka yang Engkau berikan ni’mat, bukan (jalan) mereka yang Engkau murkai, dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.”. Maka di Amin kan akhir Fatihah itu oleh para malaikat dari setiap 7 lapis langit, yaitu dari: Alam Mulki, Alam Malakut, Alam Jabarut, Alam Bahut, Alam Lahut, Alam Ahut dan yang tertinggi Alam Al-Insan yang di sinilah kemuncaknya Sholat itu. Adapun maksud ‘jalan yang lurus’ bagi kalangan sufi ialah Mi’roj. Sebagaimana sabda Nabi SAW; “Sholat itu adalah mi’roj bagi mukmin”. Tujuan Mi’roj itu ialah Penyatuan, yakni kembalinya ‘yang menyembah’ kepada ‘Yang Disembah’.
· Rukuk
Takluknya kepada huruf ‘Lam’ terzohirnya dari Alif – ‘yang menyembah’ menampakkan ‘Yang Disembah’. Alif adalah Kanzun Mahfiyyan (Yang Tersembunyi). Yang Tersembunyi ingin dikenali maka dizohirkan Lam sebagai tabirnya. Sabda Nabi SAW,”Dirikanlah sholat seolah-olah kau melihat Allah”. Para Arif Billah telah berkata bahwa”Siapa yang kenal dirinya, kenallah Tuhannya.” ‘Yang menyembah’ dinatijahkan seperti ‘angin’, manakala tatkala ‘yang menyembah’ pada posisi berdiri tadi, natijahnya adalah ‘api’ – fana dalam wujud. Api itu sifatnya membakar – yakni melenyapkan keakuan diri. Pada tahap ‘rukuk’ ini, ‘yang menyembah’ berada dalam suatu tarikan yang tersangat kuat dari Nur Muhammad. Justru itulah ia dinatijahkan kepada angin (tunduk dan menderu). ‘Yang menyembah’ ditarik masuk ke dalam Alam Jabarut dan berpisah dari Alam Malakut. Justru itulah kata para Arif Bilah , “Barangsiapa mencari Tuhan di luar dirinya, niscaya akan sesat.”. Pada tahap ini ‘yang menyembah’ melepas qolbunya dan yang tinggal padanya adalah Roh-Nya yang akan naik ke lapisan yang lebih tinggi untuk kembali kepada Tuhan. Alam Jabarut yang menghubungkan Perbendaharaan Wujud (batas larangan yang tak bisa ditembus melainkan kepada Nur Muhammad) di antara yang ‘maujud’ – ‘yang menyembah’. ‘Yang menyembah’ mengenal dirinya di Alam Jabarut, maka tersingkaplah baginya seluas-luasnya wujud Alloh tanpa tabir bahwa ‘yang menyembah’ telah bersatu dengan ‘Yang Disembah’ sebagaimana adanya di dalam Misykat itu ialah Cahaya-Nya. (Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ). Maka bertasbihlah ‘yang menyembah’, “Maha suci Tuhanku yang Maha Agung dengan sifat kepujiannya”
Jika difahami ayat itu, maka pengertian bersatu dengan ‘Yang Disembah’ yang dimaksudkan di sini bukanlah mengambil kefahaman ‘Hulul’ sebagaimana yg diyakini oleh Mansur Al-Hallaj. Yang lebih ditekankan di sini ialah Wahdatusy-Syuhud (Kesaksian Penyatuan).
· I’tidal
‘Yang menyembah’ adalah yang dibangkitkan – ‘Yang menyembah’ masuk dalam ‘Pintu Kematian.’ “Matikanlan dirimu sebelum mati”. Di sini juga artinya ‘waqof’ (sementara) dalam Sholat.
· Sujud Awal
Takluknya kepada huruf ‘Lam’ – juga huruf ‘Mim’. Nabi Muhammad SAW bersabda,”Aku dizohirkan ke dunia dalam keadaan sujud”. ‘Yang menyembah’ dinatijahkan kepada air. Air adalah sumber kejadian Alam Mulki. Arasy Tuhan berada di atas air. Maka ‘yang menyembah’ dinatijahkan kepada air, karena di sinilah ‘yang menyembah’ sampai di Alam Bahut. Alam Bahut adalah Pembatasan Terakhir Segala Penzohiran, Ungkapan Syeikh Akbar Ibnu Arobi; Syajarotul – Kaun (Pohon kejadian) atau sebutan yang sering juga disebut – Sidrotul Muntaha. Pada tahap ini ‘yang menyembah’ adalah Ruh-Nya yang di dalam Sirr. Sabda Nabi Muhammad SAW ketika mi’roj baginda melihat Wajah Alloh, “Aku tidak tahu di mana aku berada”. Pada tahap ini juga ‘yang menyembah’ menyerap kepada ‘Yang Disembah’ seolah-olah ‘yang menyembah’ itulah ‘Yang Disembah,’ ‘Yang Disembah’ itulah ‘yang menyembah, – yang pada hakikatnya wujud terurai dalam fana fil sifat dan lebur dalam fana fil zat – ‘Melihat Alloh dengan Alloh’ – maka ‘yang menyembah’ diberikan pengetahuanNya – Anal Haq (Akulah Yang Benar’).
Dari sisi tahap ini, lihatlah kepada ‘Basmalla’. Hanya ‘Ba’ dalam Basmallah saja yang tercantum dengan Alif. Sabda Nabi SAW; “Seluruh kitab Al-Qur’an itu terkandung dalam Al-Fatehah. Dan seluruh Al-Fatehah itu terkandung dalam Basmallah. Dan Basmallah terkandung dalam huruf ‘Ba’. Dan rahasia ‘Ba’ itu adalah Titik di bawahnya” Inilah yang dimaksudkan oleh Syekh Ibnu ‘Arobi Wujud Kesatuan – Wahdatul Wujud. Maka bertasbihlah ‘yang menyembah’, “Maha suci Tuhanku yang Maha Mulia dengan sifat kepujian-Nya.”
· Duduk diantara 2 Sujud
Takluknya pada huruf ‘Ha’ besar dan juga ‘Ha’ kecil (maksudnya selepas huruf Jim). ‘Yang Menyembah’ telah dikurniai ‘Baqo’ setelah fana fil sifat dan fana fil zat. Dengan dikurniai ‘Baqo’, barulah ‘yang menyembah’ dapat memasuki Perbendaharaan Rahasia Tuhan – Ilahiyat – pada sujud yang akhir nanti, sebagaimana diistilahkan oleh para Arif Billah melalui tiga tahapan, Yaitu ; ( Ahadiat, – Wahdat, – Wahadiat ). Pada tahap ini ‘yang menyembah’ berada di Alam Lahut – Alam Tiada, yang tiada sesuatu pun yang tercipta, tiada awal dan akhir, ‘yang menyembah’ menyaksikan kekosongan tanpa perbatasan, dan disinilah awalnya Diri yang kemudiannya dizohirkan sebagai Adam. Di kalangan sufi, ia juga diistilahkan ‘Negeri ‘Adami’. Diri (‘yang menyembah’) dinisbahkan kepada air yakni Air Mutlak, inilah asal-usul manusia dari alam tiada ‘La’.
Pada tahap ini juga ‘yang menyembah’ adalah di dalam Sirr-Nya – Ruh-Nya dalam keghoiban Nur Muhammad. Haqiqot Ruh-Nya adalah Nur Muhammad. Di sinilah ia bermunajat; “ Tuhanku ampunilah aku, rahmatilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, afiatkanlah aku dan maafkanlah aku.”
· Sujud Akhir
Takluknya pada rahsia huruf ‘Ha’ – yang tak kelihatan atau bunyi diujungnya ‘Hu’ dan juga huruf ‘Mim’. Pada tahap ini ‘yang menyembah’ berada di Alam Ahut’ pada nisbahnya air yang di bawah ‘Arasy Tuhan . Yang tinggal pada ‘yang menyembah’ adalah Sirulloh. Di dalam Sirr, inilah Aku. Kata Ahli Sufi, ‘Air dalam gelas, tak dapat dibedakan lagi. Air itulah gelas. Gelas itulah air.” ‘Yang menyembah’ itulah ‘Yang Disembah’ dalam gedung makrifat, bukan dalam gedung syari’at, gedung thoriqot dan gedung haqiqot. Pahamkanlah ini ‘Yang menyembah’ tidak bisa menjadi ‘Yang Disembah’ dalam arti haqiqot. Ini hanya pada makrifat semata-mata. Ingatlah, bukan faham hamba yang bertukar menjadi Tuhan. Camkan air di dalam gelas, bersatu dalam kejernihan. Lihatlah pada ‘ombak’- ombak hanya pada nama yang diberikan padahal itu air yang beriak dan menggelora.
Pada sujud akhir inilah, ‘yang menyembah’ memasuki Wilayah Ilahiyat:
· Ahadiat – Zat Mutlak atau Zat wajibal wujud
· Wahdat – Zat Yang Maha Esa
· Wahadiat – ILAH – Zat yang maha kaya daripada tiap-tiap sesuatu yang lain dan sesuatu yang lain memerlukannya.
Zat ingin dikenali sebagai Kanzun Mahfiyyan. Di sinilah terbitnya ungkapan ‘Kun’ jadilah maka jadilah ia.
· Duduk Tahiyat Akhir
Takluknya pada huruf Dal. Pada tahap ini ‘yang menyembah’ berada di Alam Al-Insan, dinisbahkan kepada tanah ketika ia duduk – dalam kesempurnaan. Dia yang mengenal dan Dialah yang dikenal pada akhirnya. Dialah yang turun dan naik dalam mi’roj.“Rahasia Insan RahasiaKu, RahasiaKu Rahasia Insan”.
Di Alam Insan, ‘yang menyembah’ diliputi dengan Wujud, Ilmu, Nur dan Syuhud, maka Zat adalah rahasianya, Sifat adalah ruhnya, Asma’ adalah qolbunya dan Af’al adalah tubuhnya. Di sinilah ia mengucapkan Selamat sejahtera (tahiyat) ke atas Nabi dan rahmat Alloh dan keberkatan-Nya. Juga kepada hamba-hamba yang solihin sekaliannya. Dialah yang menyaksi dan dialah yang bersaksi tiada Tuhan melainkan Alloh dan Muhammad adalah utusan Allah swt.
· Salam
“Salamun qowlam mir-robbir- rohiim”. Inilah salam ahli syurga. Syurga inilah yang dinikmati oleh ‘yang menyembah’, yakni syurga yang di dalamnya tanpa bidadari, sungai, buah-buahan dan pepohonan. Di syurga inilah ‘yang menyembah’ terlena memandang Wajah Alloh.
Perlu kita renungi ini adalah sutu konsep atau pandangan dari para Arif Bilah yang pemahamannya sudah jauh dari manusia awam, yang perlu kita tekankan sholat (sujud) adalah salah satu rahasia diri kita, jadi tidak perlu diungkapakan dengan kata-kata bagaimana aku sholat (sujud), cukuplah untuk diri kita pribadi,. (semuanya jadi kosong). tapi jika kita berkholwat silahkan berbicara sebebas – bebasnya.
PERBANDINGAN SHOLAT DALAM PERSEPEKTIF FIQIH DAN TASAWUF
Sholat dalam persepektif fiqih ( sholat formal )
Sebagai ibadah terpokok dalam Islam, shalat dipastikan menjadi “trade mark” bagi siapapun yang mengaku beragama Islam, artinya ke-Islaman seseorang secara lahir dapat dilihat dari shalatnya. Jika shalatnya “baik” maka orang tersebut dikenal sebagai Islam santri atau Islam “hijau” (terkadang disebut Islam putih). Sebaliknya jika shalatnya “jelek” atau malah tidak shalat, maka orang tersebut akan dikatakan sebagai Islam KTP atau Islam abangan.
Lebih dari sekedar “trade mark” , ada sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh at-Turmudziy dll, bahwa Rasulullah SAW menegaskan betapa pentingnya shalat:
“Sungguh, amal seorang hamba yang pertama kali diperhitungkan pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka dia benar-benar telah beruntung. Tetapi bila shalatnya jelek, maka dia sungguh-sungguh amat merugi…”.
Dalam tataran fiqih, shalat dikatakan “baik” manakala telah memenuhi syarat (sesuatu yang harus dipenuhi sebelum melakukan shalat) dan rukun (sesuatu yang harus dipenuhi ketika mengerjakan shalat) nya. Sebagaimana dapat dibaca dalam kitab-kitab fiqih, syarat shalat ada dua macam ( Syarat wajib sholat dan Syarat sah-nya sholat ).
Syarat wajib sholat yaitu ;
1. Islam
2. Baligh ( bagi laki-laki bila sudah mimpi keluar mani, sedang bagi perempuan bila sudah haidl)
3. Berakal sehat (tidak gila)
Sedangkan, Syarat sahnya sholat, yaitu :
1. Mengetahui waktu shalat
2. Suci dari hadats (baik hadats kecil maupun hadats besar) dan najis
3. Menutup aurat (bagi laki-laki adalah bagian badan antara pusat dan lutut, sedang bagi perempuan adalah seluruh tubuh selain muka dan dua tapak tangan)
4. Menghadap arah qiblat bagi yang memungkinkan
Sementara, Rukun sholat adalah :
1. Berdiri bagi yang mampu (kalau tidak mampu maka duduk, dan jika tidak sanggup maka telentang dengan posisi kaki di arah qiblat)
2. Takbiratul Ihram (mambaca Allaahu Akbar pertama) disertai niat shalat
3. Membaca surat al-Fatihah (dalam keadaan berdiri bagi yang mampu)
4. Ruku’ (membungkuk 90 derajat)
5. I’tidal (berdiri tegak sesudah ruku’)
6. Sujud (7 anggota badan harus menyentuh tempat shalat, yaitu dahi, dua tapak tangan bagian dalam, dua lutut dan jari-jari dua kaki) dengan posisi pantat diangkat lebih tinggi dari kepala
7. Duduk di antara dua sujud
8. Duduk tahiyyat/tasyahhud (membaca at-tahiyyaat/syahaadatain)
9. Membaca tahiyyat/tasyahhud dan shalawat Nabi.
10. Mengucapkan salam (sambil menengok ke kanan dan ke kiri)
11. Tertib (semua rukun shalat dikerjakan secara urut)
Seorang muslim/ah yang telah melaksanakan shalat dengan memenuhi syarat dan rukun tersebut, berarti telah menunaikan kewajibannya. Mengenai bacaan/doa (selain rukun di atas) yang mengiringi/menyertai semua gerakan dalam shalat hukumnya adalah sunnah (sebaiknya dibaca, tetapi kalau tidak dibacapun shalatnya tetap sah)
~~~~~~###~~~~~~
# Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
وقال صلى الله عليه وسلم: من علم علما فكتمه ألجمه الله يوم القيامة بلجام من نار
(Man 'alima 'ilman fakatamahu aljamahullaahu yaumal qiyaamati bilijaamin min naar).Artinya : "Barangsiapa mengetahui sesuatu ilmu, lalu menyembunyikannya, maka ia dikenakan oleh Allah kekang, dengan kekang api neraka, pada hart qiamat". (Dirawikan Abu Dawud & At-Tirmidzi dari Abu Hurairah, Kata At-Tirmidzi,hadits hasan)
Jadi secara kasat mata jika seseorang telah betul gerak dan lafadz yang diwajibkan secara fiqih maka telah sah lah shalat seseorang muslim tersebut. Demikianlah seorang anak yang sholeh sejak dari kecil hingga beranjak dewasa bahkan hingga masuk liang kubur kalau tidak menambah apa yang dituntunkan oleh Nabi Alloh, maka tetaplah mereka itu dengan shalat secara Fiqih.
Akibatnya apa yang terjadi sekarang ini yaitu:
  1. Caleg banyak jadi koruptor dan tertangkap adalah yang dari Muslim.
  2. Walikota yang koruptor dan sekarang meringkuk dipenjara adalah seorang Muslim.
  3. Di Depag yang terlibat korupsi juga yang dari Muslim.
  4. Banyak lagi koruptor, maling dll. Mereka juga dari Muslim.
Tentu akan timbul pertanyaan, mengapa dapat terjadi hal yang demikian, padahal:
  1. Shalatlah Kamu Seperti Saya Shalat (Hadits Nabi)
  2. Tegakanlah Shalat, Karena Bisa Mencegah Perbuatan Keji Dan Mungkar (Al-Qur’an)
Apakah salah pernyataan diatas, mengapa orang yang shalat masih terlibat korupsi, mengapa orang yang shalat masih maling duit rakyat?
1. Shalatlah Kamu Seperti Saya Shalat
Banyak orang mengikuti ini, tapi hanya melihat gerak dan bacaan Rasul saja, alias lahirnya saja yang diikuti yaitu mengikuti secara Fiqih, mereka melupakan Tasawufnya.
Sehingga yang dipelajari adalah, nabi itu shalat wajib adalah 5 kali sehari semalam dan ditambah shalat sunat, gerakan beliau dalam shalat begini dan begitu dan bacaanya adalah ayat ayat ini. Itu tidak lebih dan tidak kurang, akibatnya banyak orang yang shalat tapi hasilnya tetap saja tidak menghalangi untuk berbuat dosa. Buktinya saat ini yang jadi tersangka dan terdakwa banyak orang yang Muslim.
2. Tegakanlah Shalat, Karena Bisa Mencegah Perbuatan Keji Dan Mungkar
Mengapa banyak orang yang shalat, tapi tidak terhindar dari perbuatan keji dan mungkar, apakah bohong pernyataan diatas. Lagi-lagi orang hanya mementingkan perbuatan lahirnya saja, yaitu Fiqihnya saja. Mereka melupakan Tasawuf-nya.
Rasul atau Nabi Muhammad adalah contoh yang sempurna tentang akhlak, sejak dari kecil sudah bergelar orang yang dipercaya al-Amin, beliau memiliki akhlak yang mulia, akhlak yang mulia itulah yang ingin dicapai didalam ajaran Tasawuf. Jadi dalam mengejakan Shalat rambu rambunya adalah Fiqih sementara Tasawuf merupakan Sukma? dari shalat tersebut. Jadi Fiqih harus sejalan dengan Tasawuf.
Jadi Shalatlah Kamu Sebagaimana Saya Shalat, jangan hanya terbatas pada yang nampaknya saja, tapi harus dilihat bagaimana khusuknya Nabi juga harus diikut serta. Jadi untuk bisa mencapai kekhusukan shalat seperti Rasul, di Fiqih tidak terdapat jawabanya, yang bisa menjawab adalah Tasawuf.
Didalam Tasawuf salah satu yang mudah dituliskan disini adalah:
Sewaktu kamu shalat, seolah-olah kamu melihat Tuhan, kalau kamu tidak bisa melihat Tuhan, yakinlah bahwa Tuhan melihat kamu. Orang yang telah benar shalatnya secara Fiqih lantas meningkatkan shalatnya hingga mencapai akhlak yang mulia (tujuan utama Tasawuf adalah akhlak mulia atau mukhlisin) maka mereka selalu merasa dekat dengan Tuhan dan Tuhan selalu melihat mereka, maka mereka selalu menjaga behaviour agar tetap ber-akhlak mulia.
Jika orang selalu menegakan shalat dan yakin mereka selalu diperhatikan Tuhan, tidak saja dalam shalat tapi juga dalam keseharian, maka tentu saja akan terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Tidak yakin tingkatkan kebiasaan menuju akhlak yang mulia, salah satu caranya perkaya ilmu Fiqih dengan Tasawuf, karena pada Nabi Muhammad adalah sumber Fiqih dan Tasawuf.
*jika ada yang salah mohon untuk dikoreksi.
terimakasih sudah bersedia membaca
Muhammad Abdul fattah Gozali 18/02/2020

Minggu, 16 Februari 2020

NGAJI KUY...!!! Wudhu bukan sekedar CUCI MUKA...!!! (yang suka Cari Muka sini Baca)

Dalam fikih wudhu disebut sebagai penyuci yang menghilangkan hadats, berbeda dengan tayamum yang tidak berfungsi sebagai penghilang hadats tetapi sekadar sarana untuk diperbolehkannya shalat. Yang mewajibkan wudhu adalah adanya hadats di kala hendak melakukan shalat atau ibadah lain yang mewajibkan suci dari hadats seperti thawaf, menyentuh atau membawa Al-Qur’an, dan lain sebagainya.

Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya wudhu juga memiliki beberapa rukun atau kefardhu’an yang mesti dilakukan untuk mencapai keabsahannya. Dalam fikih madzhab Syafi’i ditetapkan ada enam hal yang menjadi rukun wudhu. Sebagaimana disebutkan Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami dalam kitabnya Safinatun Najâ.

فروض الوضوء ستة: الأول النية الثاني غسل الوجه الثالث غسل اليدين مع المرفقين الرايع مسح شيئ من الرأس الخامس

غسل الرجلين مع الكعبين السادس الترتيب

Artinya, “Fardhu wudhu ada enam: (1) niat, (2) membasuh muka, (3) membasuh kedua tangan beserta kedua siku, (4) mengusap sebagian kepala, (5) membasuh kedua kaki beserta kedua mata kaki, dan (6) tertib,” (Lihat Salim bin Sumair Al-Hadhrami, Safînatun Najâ,

Keenam rukun tersebut dijelaskan oleh Syekh Nawawi Banten sebagai berikut.
 1. Niat wudhu dilakukan secara berbarengan pada saat pertama kali membasuh bagian muka, baik yang pertama kali dibasuh itu bagian atas, tengah maupun bawah.
 Bila orang yang berwudhu tidak memiliki suatu penyakit maka ia bisa berniat dengan salah satu dari tiga niat berikut:  
  a. Berniat menghilangkan hadats, bersuci dari hadats, atau bersuci untuk melakukan shalat.
  b. Berniat untuk diperbolehkannya melakukan shalat atau ibadah lain yang tidak bisa dilakukan           kecuali dalam keadaan suci.
   c. Berniat melakukan fardhu wudhu, melakukan wudhu atau wudhu saja, meskipun yang berwudhu seorang anak kecil atau orang yang memperbarui wudhunya. 
Orang yang dalam keadaan darurat seperti memiliki penyakit ayang-ayangen atau beser baginya tidak cukup berwudhu dengan niat menghilangkan hadats atau bersuci dari hadats. Baginya wudhu yang ia lakukan berfungsi untuk membolehkan dilakukannya shalat, bukan berfungsi untuk menghilangkan hadats
. Sedangkan orang yang memperbarui wudhunya tidak diperkenankan berwudhu dengan niat menghilangkan hadats, diperbolehkan melakukan shalat, atau bersuci dari hadats. 
2. Membasuh muka Sebagai batasan muka, panjangnya adalah antara tempat tumbuhnya rambut sampai dengan di bawah ujung kedua rahangnya. Sedangkan lebarnya adalah antara kedua telinganya. Termasuk muka adalah berbagai rambut yang tumbuh di dalamnya seperti alis, bulu mata, kumis, jenggot, dan godek. Rambut-rambut tersebut wajib dibasuh bagian luar dan dalamnya beserta kulit yang berada di bawahnya meskipun rambut tersebut tebal, karena termasuk bagian dari wajah. tetapi tidak wajib membasuh bagian dalam rambut yang tebal bila rambut tersebut keluar dari wilayah muka.
 3. Membasuh kedua tangan beserta kedua sikunya. Dianggap sebagai siku bila wujudnya ada meskipun di tempat yang tidak biasanya seperti bila tempat kedua siku tersebut bersambung dengan pundak.
 4. Mengusap sebagian kecil kepala Mengusap sebagian kecil kepala ini bisa hanya dengan sekadar mengusap sebagian rambut saja, dengan catatan rambut yang diusap tidak melebihi batas anggota badan yang disebut kepala. Seumpama seorang perempuan yang rambut belakangnya panjang sampai sepunggung tidak bisa hanya mengusap ujung rambut tersebut karena sudah berada di luar batas wilayah kepala. Dianggap cukup bila dalam mengusap kepala ini dengan cara membasuhnya, meneteskan air, atau meletakkan tangan yang basah di atas kepala tanpa menjalankannya.
 5. Membasuh kedua kaki beserta kedua mata kaki Dalam hal ini yang dibasuh adalah bagian telapak kaki beserta kedua mata kakinya. Tidak harus membasuh sampai ke betis atau lutut. Diwajibkan pula membasuh apa-apa yang ada pada anggota badan ini seperti rambut dan lainnya. Orang yang dipotong telapak kakinya maka wajib membasuh bagian yang tersisa. Sedangkan bila bagian yang dipotong di atas mata kaki maka tidak ada kewajiban membasuh baginya namun disunahkan membasuh anggota badan yang tersisa
. 6. Tertib Yang dimaksud dengan tertib di sini adalah melakukan kegiatan wudhu tersebut secara berurutan sebagaimana disebut di atas, yakni dimulai dengan membasuh muka, membasuh kedua tangan beserta kedua siku, mengusap sebagian kecil kepala, dan diakhiri dengan membasuh kedua kaki beserta kedua mata kaki. Demikian Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami dan Syaikh Muhammad Nawawi Banten menjelaskan tentang rukun wudhu. 
Di samping itu ada banyak perbuatan yang dianggap sebagai kesunahan dalam berwudhu. Di antaranya membaca basmalah,
 bersiwak atau gosok gigi, membasuk kedua tangan sebelum memasukkannya ke dalam tempatnya air, berkumur, menghirup air ke dalam hidung dan mengeluarkannya lagi, membasuh kedua telinga, mendahulukan anggota badan yang kanan, berturut-turut, dan lain sebagainya. Wallahu a’lam Bissowab...
*JIKA ADA YANG SALAH MOHON DI KOREKSI

Kamis, 13 Februari 2020

TERNYATA ILMU HIKMAH BUKAN WIRIDAN...!!! Baca sendiri Disini...!!!

Langsung saja  Wa... Hehe ☺
Menurut kamus bahasa Arab, al- Hikmah mempunyai banyak arti. Diantaranya, kebijaksanaan, pendapat atau pikiran yang bagus, pengetahuan, filsafat, kenabian, keadilan, peribahasa (kata-kata bijak), dan al-Qur'anul karim. (Kamus al-Munawir: 287). Sedangka Imam al-Jurjani rahimahullah dalam kitabnya memberikan makna al-Hikmah secara bahasa artinya ilmu yang disertai amal (perbuatan). Atau perkataan yang logis dan bersih dari kesia-siaan. Orang yang ahli ilmu Hikmah disebut al-Hakim, bentuk jamaknya (plural) adalah al-Hukama' .

Yaitu orang-orang yang perkataan dan perbuatannya sesuai dengan sunnah Rasulullah." (Kitab at-Ta' rifat oleh al-Jur jani: 96-97). Al-Hikmah juga bermakna kumpulan keutamaan dan kemuliaan yang mampu membuat pemiliknya menempatkan sesuatu pada tempatnya (proporsional). Al- Hikmah juga merupakan ungkapan dari perbuatan seseorang yang dilakukan pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat pula. (Al-Qur'an, Tafsir wa Bayan; 412). Dan dalam kosa kata bahasa Indonesia, kata Hikmah mempunyai beberapa arti. Pertama, kebijaksanaan dari Allah. Kedua, sakti atau kesaktian (kekuatan ghaib). Ketiga, arti atau makna yang dalam. Keempat, manfaat. Para ulama' tafsir rahimahumullah juga mempunyai definisi masing masing tentang ilmu al-Hikmah. Yang mana antar pendapat tersebut saling berkaitan dan melengkapi satu sama lain. Imam Mujahid mengartikan al-Hikmah, "Benar dalam perkataan dan perbuatan".

lbnu Zaid memaknai, "Cendekia dalam memahami agama." Malik bin Anas mengartikan, "Pengetahuan dari pemahaman yang dalam terhadap agama Allah, lalu mengikuti ajarannya." Ibnul Qasim mengatakan, "Memahami ajaran agama Allah lalu mengikutinya dan mengamalkannya." Imam Ibrahim an-Nakho'i mengartikan, "Memahami apa yang dikandung al-Qur'an." lmam as-Suddiy mengartikan al- Hikmah dengan an-Nubuwwah (kenabian). Ar-rabi' bin Anas berkata, "Rasa takut kepada Allah." Hasan al-Bashri memaknai, "Sifat wara' (hati-hati dalam masalah halal dan haram)." Imam al-Qulthubi berkata, "Semua makna di atas saling berkaitan satu sama lain, kecuali pendapat as-Suddi. Ar-Rabi' dan al-Hasan. Ketiga pendapat rnereka saling berclekatan satu sama iain. Karena al-Hikmah sumbernya dari al-Ahkam. Yang artinva mumpuni dalam perkataan dan perbuatan. Dan semua makna yang sebutkan di atas adalah bagian dari al-Hikmah. Al-Qur'ar itu hikmah, sunnah Rasulullah juga hikmah." (Kitab Tafsir al- Qurthubi: 3/330). Imam at-Thabari rahimahullah menambahkan, “Menurut kami, makna hikmah yang tepat adalah ilmu tentang hukum-hukum Allah yang tidak bisa dipahaminya kecuali melalui penjelasan Rasulullah. Dengan begitu al- Hikmah disini berasal dari kata al-Hukmu yang bermakna penjelasan antara yang haq dan yang bathil. Sepertikalimat al- Jilsah berasal dari kata al-Julus. Kalau dikatakan bahwa si Fulan itu orang yang Hakim, berarti dia itu orang yang benar dalam perkataan dan perbuatan." (Kitab Tafsir at-Thaban: 1/ 557).

Sejatinya llmu Hikmah Jika kita memperhatikan makna al-Hikmah dalam ayat-ayat al- Qur'an, maka akan kita jumpai mayoritas makna al-Hikmah adalah al-Hadits atau as-Sunnah. Mayoritas kata al-Hikmah dalam ayat al-Qur'an disandingkan dengan kata al-Kitab yang maksudnya adalah al-Qur'an. Perhatikanlah ayat-ayat berikut, misalnya: "Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni'mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. al-Baqarah: 151). "Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat- ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguh-nya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Al-Ahzab: 34). Di surat lain, "Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkankepada mereka Kltab dan Hikmah. (as- Sunnah).Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalarn kesesatan yang nyata.” (QS. al-Jumu'ah:

2). Dari ragam definisi ilmu al- Hikmah tersebut, kita bisa memahami bahwa yang dimaksud clengan ilmu al-Hikmah adalah ilmu yang mempelajari al- Qur'an dan al-Hadits, yang mencakup cara bacanya dengan benar, pemahaman maksud dan apa yang dikandungnya, lalu mempraktikkannya dalam perkataan dan perbuatan. Apabila perkataan dan perbuatan kita berlandaskan pada dua kitab tersebut, maka kita tidak akan salah atau tersesat dari jalan yang benar. Rasulullah bersabda, "Telah aku tinggalkan pada kalian dua hal. Kalian tidak akan tersesat selama masih berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah (al- Qur'an) dan sunnah nabi-Nya (al- Hadits)." (HR. Malik, no. 1395) Dan tidak ada satu pun ayat atau hadits shahih yang menjelaskan bahwa maksud dari ilmu al- Hikmah adalah ilmu kesaktian atau kadigdayaan, yang menjadikan pemiliknya kebal senjata tajam, tidak terbakar oleh api, bisa menghilang, mampu menerawang atau meramal, bisa melihat jin dan syetan, serta tujuan kesaktian lainnya. Apalagi kalau dalam proses mendapatkan ilmu seperti itu dengan puasa atau shalat serta wirid bacaan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Ilmu hikmah bukanlah ilmu sihir yang melibatkan bantuan jin atau syetan. Sehingga bisa di transfer dari satu oranq ke orang lain, dipamerkan di tempat-tempat keramaian, dijadikan sebagai bahan pertunjukan, dipelajari dalam waktu sekejap, dimiliki dengan ritual-ritual khusus, dikuasai dengan media jimat atau benda pusaka, atau diperjual-belikan dengan mahar-mahar tertentu. Ilmu Hikmah adalah ilmu panduan, yang membimbing kita mengenal ajaran-ajaran Allah dan sunnah Rasul-Nya, sehingga kita bisa mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang. Dengan ilmu hikmah seperti itulah, kita akan menjadi orang yang benar dalam perkataan dan perbuatan. Itulah sejatinya ilmu Hikmah. Mempelajari Sumber Ilmu Hikmah Apabila kita memperhatikan definisi ilmu Hikmah yang disampaikan oleh para ulama' di atas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa ilmu Hikmah itu ada sumbernya, yaitu al-Qur'an dan a-Hadits. Keduanya merupakan referensi ilmu Hikmah yang sebenarnya. Apabila ada kitab-kitab lain yang mengajarkan ilmu hikmah, tapi ternyata bertentangan atau menyimpang dari al-Qur'an dan al-Hadits, berarti itu adalah ilmu Hikmah palsu atau gadungan.

Apalagi kalau sumber ilmu itu berasal dari agama lain, diadopsi dari keyakinan dan syari'at lain, buah dari akulturasi budaya yang sarat mistik dan syirik, maka kita tidak boleh ikut-ikutan mempelajarinya. Jangan terpedaya dengan kemasan palsu yang mengatasnamakan ilmu Hikmah. Waspadalah!!! Setiap kita bisa mempelajari sumber ilmu Hikmah. yaitu dengan mengkaji al-Qur'an dan as-Sunnah. Hanya saja daya serap otak kita, tingkat pemahaman kita, serta kemampuan kita untuk mengamalkan isi kandungannya, akan berbeda satu sama lainnya. Kitab al-Qur'an dan al-Hadits yang kita pelajari, boleh sama. Tapi daya tangkap kita, dan akurasi pemahaman makna terhadap teks yang tertulis akan berbeda satu sama lain. Begitu juga kemampuan dalam mempraktikkan ilmu yang telah diketahui.

Tidak semua orang yang membaca al-Qur'an dan al- Hadits, serta-merta memahami maknanya. Dari sekian orang yang paham maknanya, ternyata tidak semua mampu mempraktikkannya dalam perkataan dan perbuatannya. Kemampuan memahami secara mendalam terhadap al-Qur'an dan as-Sunnah itulah anugerah yang besar dari Allah yang tidak bisa dimiliki oleh setiap orang, begitu juga kemudahan dalam mengamalkannya. Apabila kita dianugerahi oleh Allah kemudahan dalam memahami agama ini dari sumbernya, dan kemampuan untuk mempraktikkannya dalam kehidupan, serta mengajarkannya kepada yang lain, berarti kita termasuk hamba yang diberi ilmu Hikmah. Dan itulah anugerah Allah termahal dan terindah, sebagaimana dijelaskan dalam surat al- Baqarah ayat 269. Sehingga dengan ilmu itu perkataan dan perbuatan kita benar, sesuai dengan syari'at Islam. Simaklah perkataan Imam Nawawi rahimahullah saat dia menjelaskan tentang iimu Hikmah yang sebenarnva. Imam an Nawawi berkata, "Ilmu al- Hikmah adalah ilmu yang berkaitan dengan hukum-hukum agama yang lengkap untuk mengenal Allah yang diiringi dengan tajamnya pikiran dan lembutnya jiwa serta mulianya akhlak. Merealisasikan kebenaran dan mengamalkannya, berpaling dari hawa nafsu dan kebathilan." (Kitab Faidhu Qadir: 3/ 416).

Sedangkan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyimpulkan bahwa makna al- Hikmah yang tepat adalah pemahaman yang mendalam terhadap kandungan kitab al- Qur'an. Iman dan hikmah biasanya berdampingan, walaupun kadang terdapat juga hikmah yang tidak bersandingan dengan iman." (Kitab Fathul Bari: 7/ 205). Itulah wujud dari kemuliaan sejati, karena kita bisa menjadi hamba yang taat, dengan kemampuan kita untuk mengetahui perintah-perintah- Nya lalu mentaatinya. Dan mengetahui larangan-larangan- Nya lalu menjauhinya. ltulah sifat hamba yang bertakwa dan berhak menjadi orang yang paling mulia. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." Begitulah Allah menjelaskan standar kemuliaan sejati dalam surat al-Hujurat ayat 13. llmu Hikmah itu Anugerah Dalam al-Qur'an disebutkan, “Allah menganugrahkan al- Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur'an dan As- Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al- Baqarah: 269) Shahabat lbnu ‘Abbas berkata, "Yang dimaksud dengan al- Hikmah dalam ayat tersebut adalah pengetahuan tentang al- Qur'an, seperti mengetahui naskh dan mansukhnya (ralat dan yang diralat), ayat muhkam dan mutasyabihnya (yang jelas dan yang samar), yang pertama dan yang terakhir, yang dihalalkan dan yang diharamkan, dan yang semisalnya." Sedangkan lmam Qatadah, Abul 'Aliyah, lmam Mujahid, memaknai dengan al-Qur'an dan kepahaman mendalam akan apa yang dikandungnya." (Kitab Tafsir at-Thabari: 3/ 39).

lmam lbnu Jarir at-Thabari menafsirkan al-Hikmah dalam ayat tersebut dengan, "Kebenaran dalam perkataan dan perbuatan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang diberi kebenaran dalam perkataan dan perbuatan, berarti ia telah mendapatkan kebaikan yang sangat banyak." (Kitab Tafsir at-Thabari: 3/ 89). Imam al-Qurthubi berkata, "Asal makna Hikmah adalah apa saja yang dapat menghalangi datangnya kebodohan. Maka dari itu ilmu juga disebut hikmah, karena ia dapat menghalau kebodohan dan segala perbuatan buruk. Begitu juga al-Qur'an, akal dan pemahaman. Dalam riwayat Imam Bukhari dikatakan, "Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam masalah agama." Imam Bukhari berkata, "Barangsiapa yang diberi hikmah, maka ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Dan sering terulangnya kata al-Hikmah dalam al-Qur'an, tanpa menggunakan kata penggantinya, sebagai pertanda akan kemuliaan dan keutamaanny a." (Kitab Tafsir al- Qurthubiz: 3/330). Abdullah bin Mas'ud berkata, Rasulullah SAW. bersabda, "Tidak boleh hasud (ghibthoh), kecuali dalam dua hal. Iri kepada orang yang diberi harta oleh Allah, lalu ia habiskan hartanya dl jalan yang benar. Dan iri kepada orang yang diberi ilmu Hikmah oleh Allah, lalu ia praktikkan ilmu tersebut dan mengajarkannya (kepada yang lain)." (HR. Bukhari' no. 6608 dan Musiim, no. 1352).

Al-Hafizh lbnu Hajar al-Asqalani berkata, "Yang dimaksud dengan hikmah dalam hadits tersebut adalah al-Qur' an berdasarkan hadits yang diriwayatkan lbnu Umar. Atau lebih umum dari itu, yaitu ilmu yang bisa menolak kebodohan dan menjauhkan pemiliknya dari keburukan (penjelasan ini sama dengan penjelasan lmam Nawawi dalam kitabnya Syarhul Muslim, 6/ 98. red.). Sedangkan yang dimaksud dengan hasad disini adalah al- Ghibthah (keinginan agar bisa menjadi seperti orang yang dimaksud, red.).(Kitab Fathul Bari: 13 / 120). Ilmu Hikmah adalah ilmu panduan, yang membimbing kita kita mengenal ajaran-ajaran Allah dan sunnah-sunnah Rasul-Nya, sehingga kita bisa mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang. Dengan ilmu hikmah seperti itulah, kita akan menjadi orang yang benar dalam perkataan dan perbuatan.

Itulah sejatinya ilmu Hikmah!


Rabu, 12 Februari 2020

ANEH...!!! AKIBAT ORANG ISLAM TIDAK MENGETAHUI RUHUL QUDSI disangka JESUS...???

kutipan ceramah pangersa Almarhum Uwa :
Akibat tidak mengetahui ruhul qudsi, orang menganggap ruh adalah nyawa. Nyawa adalah alat hidup. Tidak ada nyawa, mati. Padahal ruh ada 4 lapis. Ruh Qudsi, Ruh Sulthani, Ruh Ruhani dan Ruh Jismani.
Ruh qudsi bisa keluar dan badan tetap hidup. Ruh qudsi adalah ruh murni dari cahaya Nabi Muhammad SAW. Semua manusia memilikinya.
Para nabi karena berasal dari keturunan yang baik, begitu hadir ke muka bumi ruh qudsinya yang paling dalam bisa kembali kepada Allah SWT. Badannya di bumi, ruh qudsinya kembali lagi kepadaNya. Karena itu tidak ada nabi maksiat.
Manusia yang bukan nabi, bukan calon nabi, di dalam darahnya banyak syubhat. Bisa dari makanan haram, menipu, korupsi dan hal-hal buruk lainnya yang dilakukan orang tua. Maka begitu keluar dari perut ibu, ruh yang paling dalam (ruh qudsi) macet. Belum lagi ditambah dengan dosa-dosa dirinya pribadi, membuat ruh qudsi makin macet tidak bisa ke luar.
Alhamdulillah, andaikan tidak dipertemukan dengan guru mursyid Pangersa Abah, kita tidak akan paham hal-hal seperti ini. 
Tidak bisa kuncinya dibuka dengan doa, sehebat apapun ahli doa. Siapakah yang bisa membukakan gembok yang mengunci ruh paling dalam sehingga dia tidak bisa keluar? Adalah mursyid kamil mukammil (sempurna dan mampu menyempurnakan).
Bagaimana kalau bertemu dengan mursyid namun tidak kamil, bukan mursyid sempurna?. Tetap tidak akan bisa terbuka. Walaupun memberikan ijazah talqin Laa ilaaha illallaah hanya menjadi wiridan.
Diamalkan hanya mendapat pahala, namun gembok tetap tidak terbuka.
Yang disebut iftahlana futuhal ‘arifiin juga a’thinii mahabbataka wa ma’rifataka itu adalah terbukanya kunci gembok batin yang kalau ditimbang melebihi alam semesta dengan isinya.
Hanya bisa dibuka oleh Allah SWT dan orang yang diberi kepercayaan oleh Allah SWT untuk mengurus hal itu."
Disampaikan oleh KH. Zezen Z. A. Bazul Asyhab, Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya. Wafat 19 November 2015. Untuk beliau… Al-Fatihah.

Selasa, 11 Februari 2020

JARANG DIKETAHUI...! INI silsilah RADEN KANGJENG NABI MUHAMMAD S.A.W Hingga Nabi Adam AS

INI silsilah Nabi Muhammad SAW hingga Nabi Adam AS:

– RADEN KANGJENG NABI MUHAMMAD Bin
– Abdullah bin
– Abdul Muthalib, yang memiliki nama asli Syaibah, dinamai demikian karena beberapa alasan: 1. Memiliki uban (Syaib) sejak lahir. 2. Sebagaimana wasiat ayahnya. 3. Agar mempunyai jiwa dewasa. Abdul Muthalib: Syaibah bin
– Hasyim yang mempunyai nama asli Amr, dipanggil Hasyim karena menjamu banyak orang dengan daging cincangan (Hasyiim). Beliaulah orang pertama kali yang menggagas perjalanan bisnis pada musim dingin dan panas (rihlah al-Syitaa wa al-Shaif). Hasyim: Amr bin
– Abdu Manaf juga dipanggil al-Mughirah. Beliau dikenal sangat rupawan. Abdu Manaf: al-Mughirah bin
– Qushay memiliki nama asli Zaid. Dipanggil Qushay (jauh) karena saat ia kecil diajak ibunya pergi jauh meninggalkan kota Mekah. Qushay: Zaid bin
– Kilab mempunyai nama asli Hakim ada juga riwayat yang mengatakan namanya Urwah. Dipanggil Kilab karena ia gemar berburu. Ia adalah orang pertama yang menghiasi pedang dengan emas dan perak. Kilab: Hakim atau Urwah bin
– Murrah nama aslinya Handzhalah alias Alqamah. Murrah: Handzhalah alias Alqamah bin
– Ka’b orang pertama yang memberi nama hari Jumat. Sebab pada hari itu ia mengumpulkan semua orang untuk menyampaikan pesan akan kedatangan seorang Nabi dari keturunannya agar diikuti dan diimani. Ka’b bin
– Luay berarti lembu muda jantan dan ketenangan penuh kesabaran. Luay bin
– Ghalib bin
– Fihr nama aslinya Quraisy yang kemudian menjadi penisbatan suku Quraisy karena fihr adalah pengusaha yang menjadi owner hampir mayoritas perusahaan di jazirah arab pada masanya, sehingga banyak uangnya (QURS yang ditasgir menjadi Quraisy) yang tak lain adalah anak turunannya. Fihr: Quraisy bin
– Malik: Abu al-Harits bin

– al-Nadlhr bernamakan asli Qais. Beliau dipanggil al-Nadhr (berseri-seri) karena mempunyai wajah tampan nan bercahaya. Al-Nadlhr: Qais bin
– Kinanah berarti tempat anak panah. Dinamai demikian karena mempunyai sifat pemberani yang mampu melindungi kaumnya. Kinanah bin
– Khuzaimah bin
– Mudrikah mempunyai nama asli Amir atau Amr. Mudrikah: Amir alias Amr bin
– Ilyas berarti pemberani. Ilyas bin
– Mudlhar, nama aslinya Amr. Dipanggil Mudlhar (susu) karena ia putih dan tampan. Beliau juga memiliki suara paling merdu di zamannya. Beliau orang pertama yang mendendangkan lagu-lagu bagi onta. Mudlhar bin
– Nizar (sedikit/jarang), ada dua alasan penamaannya: ia orang yang langka dan ia orang yang sangat kurus. Nizar bin
– Ma’add bin
– Adnan, menurut riwayat yang sahih silsilah nasab Nabi saw hanya sampai nama Adnan ini. Riwayat ini juga disepakati oleh ahli ilmu nasab. Urutan nasab setelah Adnan ditemukan perbedaan pendapat di kalangan pakar sejarah.
-        Udd, menurut riwayat lain dipanggil dengan Udad. Nama ini terambil dari Wudd yang berarti cinta.  bin
- Muqawwim ada yang bilang hamasysa bin
- Naahuur, berasal dari kata Nahr (berkurban). Naahuur bin
- Tayrah bin
- Ya’rub bin
- Yasyjub bin
- Nabit bin
- Ismail as, salah satu Nabi Allah. Nama Ismail berarti orang yang taat pada Allah swt. Ibrahim bin
- Ibrahim as, salah satu Nabi Allah. Al-Fairuzabadi dalam kitab Bashair Dzawi al-Tamyiz menyebutkan nama Ibrahim merupakan penggabungan dari dua kata: Ab (ayah) Rahim (penyayang). Nama-nama setelah Ibrahim kebanyakan terambil dari bahasa Suryani. Ibrahim bin
- Tarih (Taroh), menurut sebagian riwayat dikenal juga dengan nama Aazar. Tarih bin
- Naahuur bin
- saaruugh bin
- Raa’uu, ada juga riwayat yang mengatakan namanya Raaghuu. Raa’uu bin
- Faalikhgh, nama ini berarti tampan, indah. Faalikh bin
- Aybar (abyr) bin
- Syalikh, nama ini berarti utusan atau wakil. Syalikh bin
- Arfakhsyadz, nama ini berarti lentera yang berkilau. Arfakhsyadz bin
- Sam bin
- Nuh, salah satu nabi Allah. Nuh bin
- Lamak bin
- Mattu Syalakh bin

- Idris, salah satu nabi Allah. Nama aslinya Akhnukh. Beliau merupakan orang pertama yang menulis sebagaimana riwayat dalam musnad Ahmad. Idris bin
- Yard bin
- Mahlil (Mihlayil) bin
- Qaynan (qynan) , nama ini berarti orang lurus. Qaynan bin
- Yanisy, nama ini berarti orang jujur. Yanisy bin
- Syits, nama ini berarti pemberian Allah. Syits bin
- Adam, ada tiga pendapat mengenai arti nama Adam. Pertama, warna putih atau warna antara putih dengan hitam. Kedua, nama dalam bahasa Suryani. Ketiga, permukaan tanah sebab ia diciptakan dari tanah.
Sebagaimana disinggung sebelumnya, nasab Nabi Muhammad saw setelah Adnan hingga Adam kurang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu ditemukan silang pendapat dikalangan ulama mengenai penyebutan nasab mulia ini hingga Adam, tapi yakin dipilih dari sulbi orang-orang yang suci, hasil nikah sah tidak ada hasil zinah ataupun sifah, Diantara jajaran ulama yang memperbolehkannya adalah Ibnu Ishaq, al-Thabari, dan al-Bukhari.
Sedangkan di pihak yang menentangnya ada nama Malik bin Anas. Terlepas dari perbedaan ini yang terpenting bagi kita adalah tetap meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW berasal dari trah orang-orang yang terpilih. Sebagaimana riwayat dalam sahih Muslim:
"Sungguh Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, lalu memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, kemudian memilih Bani Hasyim dari suku Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim."


Riwayat di atas dalam lingkup yang lebih luas dikuatkan oleh al-Hakim dalam kitab al-Mustadrok:
"Allah menciptakan berlapis-lapis langit lalu memilih yang paling tinggi untuk ditempati makhluk-Nya sesuai kehendak-Nya. Kemudian memilih manusia dari seluruh makhluk yang Dia ciptakan. Arab dipilih dari semua manusia. Bani Mudlhar dipilih dari kalangan Arab. Lalu Quraisy terpilih diantara Bani Mudlhar. Dipilihlah Bani Hasyim dari suku Quraisy. Aku terpilih dari pilihan-pilihan diantara Bani Hasyim."
Editor: muhamad Abdul fattah Gozali
Senin,10 februari 2020
Semoga manfaat dan bisa dimanfaatkan,
*jika ada yang salah mohon untuk dikoreksi, terimakasih.INI silsilah Nabi Muhammad SAW hingga Nabi Adam AS: