Sebagai seorang manusia, hidup di dunia ini adalah bagaikan menempuh sebuah perjalanan, yang diawali ketika ia dilahirkan ke dunia, sebut saja ini adalah titik nol atau titik keberangkatan, dan diakhiri ketika ia menghembuskan nafas terakhirnya, ketika menuju akhir perjalananya itu manusia terbagi-bagi menjadi beberapa macam, pertama, ada yang tujuan akhirnya mencari popularitas keduniaan, kedua ada yang tujuan akhirnya adalah surga, dan ketiga yang tujuan akhirnya adalah bertemu dengan dzat yang maha abadi. Tujuan ketiga inilah yang akan menjadi inti pembahasan dari tulisan ini.
Cara yang ditempuh manusia untuk mencapai tujuannya pun tentunya berbeda-beda, banyak jalan menuju roma, dan kita tahu, bahwa tidak semuanya itu bisa mencapai tujuannya, hanya yang melalui jalannya yang akan sampai pada tujuan, kalau dalam peribahasa bahasa arab, sungguh perahu tidak akan berjalan ditempat yang kering. Oleh karena itu sebaiknya manusia terus mencoba untuk mencari jalannya agar sampai tujuannya, yang tentunya tiada kebenaran mutlak bahwa jalannya adalah satu-satunya jalan yang benar.
Seseorang yang telah mencapai tujuannya ini, tentu saja mempunyai cara sendiri untuk mengistilahkannya, sebut saja Abu Yazid Al Bustomi mempunyai istilah ittihad untuk derjat tertinggi ini, Alhallaj mempunyai istilah hulul, ibnu Arabi mempunyai istilah wahdatul wujud, Syeh Siti Jenar mempunyai istilah manunggaling kawulo gusti, Robiah Al Adawiyah mempuyai istilah mahabah, Imam Ghazali mempunyai istilah ma’rifah, akan tetapi Syaikh Imriti tidak mempunyai istilah khusus bagi orang yang telah sampai tujuannya, akan tetapi syaikh Imriti hanya menggambarkan bahwa orang yang telah sampai tujuannya ini ibarat seorang pemabuk yang berada dikedai minuman arak yang di iringi irama lagu. Syaikh Imriti berkata fa’uribat fi hani bil alhani, (imriti, nadzom ketiga).
Dengan pernyataan inilah penulis menyimpulkan bahwasanya Syaikh Imriti sebagai pemabuk sejati, tiada yang diingatnya lagi selain dzat yang maha abadi, dalam suatu ceramahnya Habib Umar Al Muthohar mengatakan bahwasanya orang yang sudah mencapai derajat ini, yang diingat hanyalah dzat yang maha abadi sehingga ia tidak merasa sakit lagi kalaupun ia dibakar, hal seperti inilah yang tidak bisa dinalar logika, ilmu baratpun belum mampu memecahkan hal ini karena pada umumnya tubuh akan terasa sakit apabila dibakar, kemudian Habib Umar menjelaskan dengan logika dasar, yang diambil dari al-quran, ingkatlah ketika seluruh wanita mesir dikumpulkan dalam suatu perjamuan yang di adakan oleh Zulaikha, ketika mereka semua sedang mengupas apel, keluarlah yusuf, terpana melihat kedatangan yusuf, mereka sampai tidak terasa kalau yang dipotong itu bukan buah apel, akan tetapi jemarinya sendiri, seraya berkata ini bukanlah manusia tetapi malaikat. Orang yang terpana dengan yusuf aja bisa sampai segitunya, tiada sadar dan terasa sakit ketika memotong jemarinya, apalagi orang yang sudah berasyik ria dengan dzat yang maha abadi, tiada yang dirasakan lagi selain sebuah kenikmatan.
Sama seperti kisah seorang sahabat nabi yang tertusuk anak panah, ketika mau dicabut dalam keadaan sadar ia tersasa sakit, kemudian ia meminta dicabut anak panah itu dalam keadaan sholat, kemudian dicabutlah dalam keadaan sholat, dan ia tidak merasakan sakit. Begitulah orang yang telah sampai pada tujuan terakhirnya yaitu bertemu dengan dzat yang maha abadi. Tentunya banyak cara untuk sampai pada tujuan ini, terus bagaimana cara Syaikh Imriti mencapai tujuan akhirnya ini, ? sebagai pemabuk sejati. Kita bisa lihat bagaimana Syaikh Imriti bisa menjadi pemabuk sejati dengan menelaah buku yang menjadi magnum opusnya yaitu nadhom imriti dalam bab muqoddimah.
Beliau (Syaikh Imriti) berkata:الحمد لله الذي قد وفّقا * للعلم خير خلقه وللتقى
(Segala puji bagi allah yang telah memberikan taufiq kepada sebaik-baiknya mahluqnya pada llmu dan taqwa).
Untuk mengetahui kandungan makna bait pertama pada syi’ir imriti ini, penulis mengamati dari aspek kebahasaanya, menurut Ibnu Hisyam Al-Ansori dalam magnum opusnya yaitu mughni labib, beliau menyebutkan bahwasanya huruf al (ال) yang secara keseluruan mempunyai 10 faidah makna, sedangkan huruf jar li (ل) secara keseluruhan mempunyai 18 faidah makna. Yang kesemua maknanya berbeda-beda, melihat hal ini Grand Syaikh Universitas Al-azhar kairo mesir ke 19, Ibrahim Bajuri, yang terkenal dengan magnum opusnya hasyiah bajuri, yang merupakan komentar (syarah) dari kitab yang sangat popular dikalangan pesantren, fathul qorib mujib, memberikan komentar terhadap bait pertama syi’ir imriti ini, beliau berkata: “bahwasanya kalimat alhamdulillahi pada bait ini merupakan kalimat yang khusus, atau kalimat kepemilikan, kemudian beliau menyimpulkan bahwasanya al yang terdapat pada kata alhamdu merupakan al jinsi yang berarti mencangkup semuanya, dalam artian kata al ini bisa diganti dengan kata kullu, jadi kalau diartian adalah segala pujian, itulah mengapa dalam tradisi di pondok pesantren memaknai kata alhamdu dengan arti sekabahane puji, seluruh pujian tanpa terkecuali, sedangkan lam pada kata lillahi mempunyai faidah ikhtisos yang berarti kekhususan, yang dalam tradisi pesantren diartikan kagungane gusti allah. Jadi bisa diartikan bahwa kalimat alhamdulillahi itu bermakna segala pujian apapun itu pada dasarnya hanyalah khusus milik Allah tiada yang lain, perlu ditegaskan khusus untuk Allah, jadi tiada pujian untuk selain Allah, dengan menyadari dan mengakui kalau pujian hanyalah khusus milik Allah yang maha sempurna, tiada mempunyai kekurangan apapun, oleh karena itu sebagai mahkluk kita tidak berhak menerima pujian dari siapapun, jikalau ada yang mengatakan bahwa ada orang memuji orang karena orang itu bisa ini, bisa itu, maka yang perlu disadari adalah bahwasanya orang memuji orang lain karena orang yang memuji itu tidak mengetahui kekurangan orang yang dipuji, hal ini dikarenakan Allah yang menutupi kekerungan orang yang dipuji tersebut, maka seharusnya pujian itu bukan ditujukan kepada orang tersebut akan tetapi kepada yang menutupi kekurangan tersebut, yaitu dzat yang maha abadi.
Kemudian Ibrahim Bajuri melanjutkan komentarnya mengenai bait pertama ini dengan berkata “Bahwasanya kalimat alhamdulillah ini beralih fungsi dari yang sebelumnya kalimat fi’liyah menjadi kalimat ismiyah, beralihnya fungsi ini menunjukan keabadian dan ketetapan pujian, yang kalimat asalnya adalah hamdan lillah, aritinya hamidtu hamdan lillah, kemudian dimasukan al jinsiyah kepada kata hamdan menjadi alhamdu, dari sini dapat penulis simpulkan apabila pujian itu menggunakan kalimat fi’iliyah itu artinya pujian kepada Allah itu masih terikat oleh waktu, karena pada hakekatnya waktu ini dibagi menjadi tiga, lampau, sekarang dan yang akan datang. Kalau pujian Allah itu hanya diwaktu lampau saja, atau sekarang saja atau yang akan datang saja jelas hal ini adalah mustahil, kalaupun ketiga waktu itu digabungkan tetap saja itu hal yang mustahil, karena Allah itu pada hakikatnya tidak terikat oleh waktu, tiada bermulaan dan tiada berakhiran, perlu kita ketahui bahwasanya pujian kepada Allah itu abadi, tidak terikat dengan waktu sama sekali oleh karena pujian ini menggunakan kalimat ismiyah, yang artinya dzat maha abadi yang tidak terikat oleh waktu.
Kemudian Syaikh Ibrahim Bajuri menyebutkan bahwasanya syarat atau rukun pujian itu ada lima, yang pertama adalah hamid, yaitu orang yang memuji, kedua mahmud yaitu seseorang yang dipuji, yang ketiga adalah mahmud bih yaitu sesuatu yang dipuji, ke empat adalah mahmud alaih yaitu konsekuen dari pujian tersebut, yang kelima adalah sighot yaitu kata-kata yang digunakan untuk memuji, dalam bait pertama ini kita bisa mengetahui bahsanya hamid adalah orang yang membaca kata alhamdulillah atau kita, mahmudnya adalah Allah, mahmudbihnya adalah memberikan taufiq berupa ilmu dan taqwa kepada sebaik-baik mahkluknya, mahmud alaihnya adalah adanya pengkuan bahwa segala pujian itu hanya milik Allah, serta menyadari bahwa taufiq, ilmu, taqwa itu pemberian Allah sehingga tiada boleh bersombong karena mumpunyai ilmu dan sudah menjadi taqwa karena itu semua adalah pemberian dari allah, dengan konsekuen juga adanya kepasrahan total dan pengakuan bahwa kita adalah hambanya Allah, sedangkan shighotnya adalah kalimat pada bait kesatu.
Dari bait kesatu ini juga penulis dapat mengambi ikhtibar bahwasnya untuk menjadi sebaik-baiknya hamba Allah hal yang harus dicari adalah ilmu, dengan adanya ilmu kita bisa menjadi taqwa kepada Allah swt, serta kita harus mempunyai keyakinan bahwasanya ilmu yang kita peroleh itu merupakan hasil dari taufiq atau pemberian Allah, bukan karena usaha kita. Kita juga harus memperhatikan bahwa kata ilmu itu juga disandingkan dengan taqwa, banyak orang bertambah ilmunya tapi malah jauh dari ketakwaan kepada Allah, oleh karena itu carilah ilmu yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, yaitu ilmu yang memberikan rasa taqut dan ketaqwaan kepada Allah. Perlu diketahui juga bahwasanya taufiq adalah pemberian kekuatan dalam menjalani ketaatan dan kemudahan dalam menggapai kebajikan, sedangkan taqwa adalah menjalankan semua perintah Allah dan menjahui segala laranganya.
Jadi perlu diingat bahwasanya segala pujian itu khusus milik Allah, KH Abdurahman Wahid berkata hamba yang masih terganggu dengan pujian dan hinaan berarti masih hamba yang amatiran. Itu artinya jikalau ada hamba yang masih merasa senang dengan pujian dan masih merasa sedih dengan hinaan masih menjadi hamba yang amatiran, kualitas kehambaanya masih di level bawah, hal ini merupakan tabiat atau watak dasar seorang manusia, senang dipuji dan sedih kalau dihina, oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas kehambaan dan untuk menjadi pemabuk sejati yaitu dengan menyadari lagi bahwa pujian itu hanya milik Allah, dan hinaan dan ujian itulah yang akan mengangkat derajat serta meningkatkan kualitas kehambaan kita, tanpa adanya kesadaran dalam hati mengenai hal ini sulit rasanya menjadi pemabuk sejati seperti Syaikh Imriti.حتى نحت قلوبهم لنحوه * فمن عظيم شأنه لم تحوه
(sehingga QOLBU mereka menuju kepada Allah, akan tetapi karena keagungan dzatNya Allah mereka tidak dapat menjangkau dan melipuntinya)
Bait kedua ini menjelaskan bahwasanya karena lantaran taufiq, ilmu dan ketaqwaan yang diberikan Allah kepada hambanya, maka hati mereka berusaha mendekat kepada sang pemberi taufiq, orang-orang yang sudah diberi ilmu dan taufiq akan selalu bergerak menuju dan mencarinya karena adanya keyaqinan dalam hati mereka bahwasanya kenikmatan tertinggi seorang mahluk adalah bertemu dengan sang kholik, jikalau sang mahluk sudah cukup bahagia dengan pemberian berupa makluk juga berarti adanya yang harus diperbaiki dalam hatinya, oleh karena itu para ulama telah berma’rifat kepada allah hatinya tiada pun takut dan bersedih terhadap apapun yang menimpanya didunia.
Sebenarnya kita sebagai manusia yaitu sebagai mahluk Allah sama-sama mencari Tuhan, akan tetapi cara pencarianya berbeda, ilmuan barat dengan melakukan penelitian-penelitian, sedangkan orang islam dengan melakukan pembersihan hati, sehingga ada yang bisa mengetahui hakekat dzat tuhan melalui pengalaman spiritualnya, sehingga munculah istilah hulul, ittihat, ma’rifat dll dalam dunia islam.
Sebenarnya upaya pencarian tuhan telah berlangsung sejak berabad-abad sebelum masehi, sebagai contoh adalah nabiyullah Musa yang ingin melihat Dzat Allah, Nabi Musa terus bermunajat untuk bisa melihat Allah, setelah itu Allah memerintahkan Nabi Musa untuk melihat gunung tursina, gunung tursina hancur lebur untuk ditempati Dzat Allah, dengan itu nabi musa sadar. Dengan dasar ini Syaikh imriti pun berkata dan menegaskan dalam bait kedua ini, فمن عظيم شأنه لم تحوه karena keagungan dzat Tuhan setiap hati manusia tidak akan mampu menjangkaunya atau meliputinya, kata عظيم شأنه menunjukan keagungan, kemahasempurnaan dzat Tuhan, sehingga tiada yang bisa menjangkaunya walaupun dilakukan beribu-ribu penelitian.فأشربت معنى ضمير الشان * فأعربت في الحان بالألحان
(lalu dicampurkanlah kedalam hati mereka rahasia makna dhomir sya’ni (kalimat tauhid) sehingga ditampakan kepadanya kecintaan seperti pemabuk yang menikmati arak dan diringi lagu-lagu)
Karena hati manusia tiada akan pernah meliputi dan menjangkau Dzat Allah, maka Allah mencampur hati para hambanya dengan dhomir sya’ninya, atau rahasia keagungan DzatNya, sehingga dengan percampuran ini, hati mereka menjadi cinta dan mahabbah kepada Allah, sehingga mereka tenggelam dalam lautan cinta, lupa terhadap sesuatu selain Allah, mabuk kepayang kepada DzatNya, Syaikh ibrohim bajuri memberikan komentar terhadap bait ketiga ini, beliau berkata bahwa kata فأشربت yang berarti pencampuran seperti bercampurnya kain dengan sumba pewarna, atau seperti bercampurnya warna dengan warna, diibartakan seperti bercampurnya warna putih dan merah, kedua warna ini bercampur lebur menjadi satu, kemudian beliau menerangkan bahwa dhomir sya’ni adalah kalimat tauhid, yang intinya penegasan yang kuat bahwa tiada Tuhan kecuali Allah, tidak kekuatuan untuk melaksanakan perintahnya, dan tiada daya untuk menjauhi laranganya kecuali dari kekuatan Allah.
Penulis menginterpretasi bait ini, bahwa di dunia ini tiada yang bisa mencari dan menemukan Dzat Allah yang عظيم شأنه, kemudian Allah menampakan rahasia keangagungan dzatnya dengan istilah ضمير الشان. Dengan dicampurkan hati para hambanya dengan rahasia keagungan dhomir sya’ni, maka jadi tampaklah rahasia dhomir sya’ni dalam jiwa para hambanya sehingga ia menjadi mabuk kepayang kepada Allah, seperti pemabuk yang meminum arak dikedai serta diiringi alunan lagu-lagu.
Dari sini penulis penyimpulkan bahwa sampainya seorang hamba kepada Dzat Yang Maha Abadi itu bukan karena amal ibadahnya, bukan karena usaha riyadhohnya, akan tetapi karena rahmat dan kasih sayang Allah, sehingga karena kasih sayangnya tersebut, dicampurkanlah hati hamba tersebut dengan rahasianya sehingga tampaklah pada hamba tersebut kesempurnaan makrifahnya.
Alfaaatihah....
Sebagai seorang manusia, hidup di dunia ini adalah bagaikan menempuh sebuah perjalanan, yang diawali ketika ia dilahirkan ke dunia, sebut saja ini adalah titik nol atau titik keberangkatan, dan diakhiri ketika ia menghembuskan nafas terakhirnya, ketika menuju akhir perjalananya itu manusia terbagi-bagi menjadi beberapa macam, pertama, ada yang tujuan akhirnya mencari popularitas keduniaan, kedua ada yang tujuan akhirnya adalah surga, dan ketiga yang tujuan akhirnya adalah bertemu dengan dzat yang maha abadi. Tujuan ketiga inilah yang akan menjadi inti pembahasan dari tulisan ini.
Cara yang ditempuh manusia untuk mencapai tujuannya pun tentunya berbeda-beda, banyak jalan menuju roma, dan kita tahu, bahwa tidak semuanya itu bisa mencapai tujuannya, hanya yang melalui jalannya yang akan sampai pada tujuan, kalau dalam peribahasa bahasa arab, sungguh perahu tidak akan berjalan ditempat yang kering. Oleh karena itu sebaiknya manusia terus mencoba untuk mencari jalannya agar sampai tujuannya, yang tentunya tiada kebenaran mutlak bahwa jalannya adalah satu-satunya jalan yang benar.
Seseorang yang telah mencapai tujuannya ini, tentu saja mempunyai cara sendiri untuk mengistilahkannya, sebut saja Abu Yazid Al Bustomi mempunyai istilah ittihad untuk derjat tertinggi ini, Alhallaj mempunyai istilah hulul, ibnu Arabi mempunyai istilah wahdatul wujud, Syeh Siti Jenar mempunyai istilah manunggaling kawulo gusti, Robiah Al Adawiyah mempuyai istilah mahabah, Imam Ghazali mempunyai istilah ma’rifah, akan tetapi Syaikh Imriti tidak mempunyai istilah khusus bagi orang yang telah sampai tujuannya, akan tetapi syaikh Imriti hanya menggambarkan bahwa orang yang telah sampai tujuannya ini ibarat seorang pemabuk yang berada dikedai minuman arak yang di iringi irama lagu. Syaikh Imriti berkata fa’uribat fi hani bil alhani, (imriti, nadzom ketiga).
Dengan pernyataan inilah penulis menyimpulkan bahwasanya Syaikh Imriti sebagai pemabuk sejati, tiada yang diingatnya lagi selain dzat yang maha abadi, dalam suatu ceramahnya Habib Umar Al Muthohar mengatakan bahwasanya orang yang sudah mencapai derajat ini, yang diingat hanyalah dzat yang maha abadi sehingga ia tidak merasa sakit lagi kalaupun ia dibakar, hal seperti inilah yang tidak bisa dinalar logika, ilmu baratpun belum mampu memecahkan hal ini karena pada umumnya tubuh akan terasa sakit apabila dibakar, kemudian Habib Umar menjelaskan dengan logika dasar, yang diambil dari al-quran, ingkatlah ketika seluruh wanita mesir dikumpulkan dalam suatu perjamuan yang di adakan oleh Zulaikha, ketika mereka semua sedang mengupas apel, keluarlah yusuf, terpana melihat kedatangan yusuf, mereka sampai tidak terasa kalau yang dipotong itu bukan buah apel, akan tetapi jemarinya sendiri, seraya berkata ini bukanlah manusia tetapi malaikat. Orang yang terpana dengan yusuf aja bisa sampai segitunya, tiada sadar dan terasa sakit ketika memotong jemarinya, apalagi orang yang sudah berasyik ria dengan dzat yang maha abadi, tiada yang dirasakan lagi selain sebuah kenikmatan.
Sama seperti kisah seorang sahabat nabi yang tertusuk anak panah, ketika mau dicabut dalam keadaan sadar ia tersasa sakit, kemudian ia meminta dicabut anak panah itu dalam keadaan sholat, kemudian dicabutlah dalam keadaan sholat, dan ia tidak merasakan sakit. Begitulah orang yang telah sampai pada tujuan terakhirnya yaitu bertemu dengan dzat yang maha abadi. Tentunya banyak cara untuk sampai pada tujuan ini, terus bagaimana cara Syaikh Imriti mencapai tujuan akhirnya ini, ? sebagai pemabuk sejati. Kita bisa lihat bagaimana Syaikh Imriti bisa menjadi pemabuk sejati dengan menelaah buku yang menjadi magnum opusnya yaitu nadhom imriti dalam bab muqoddimah.
Beliau (Syaikh Imriti) berkata:
Cara yang ditempuh manusia untuk mencapai tujuannya pun tentunya berbeda-beda, banyak jalan menuju roma, dan kita tahu, bahwa tidak semuanya itu bisa mencapai tujuannya, hanya yang melalui jalannya yang akan sampai pada tujuan, kalau dalam peribahasa bahasa arab, sungguh perahu tidak akan berjalan ditempat yang kering. Oleh karena itu sebaiknya manusia terus mencoba untuk mencari jalannya agar sampai tujuannya, yang tentunya tiada kebenaran mutlak bahwa jalannya adalah satu-satunya jalan yang benar.
Seseorang yang telah mencapai tujuannya ini, tentu saja mempunyai cara sendiri untuk mengistilahkannya, sebut saja Abu Yazid Al Bustomi mempunyai istilah ittihad untuk derjat tertinggi ini, Alhallaj mempunyai istilah hulul, ibnu Arabi mempunyai istilah wahdatul wujud, Syeh Siti Jenar mempunyai istilah manunggaling kawulo gusti, Robiah Al Adawiyah mempuyai istilah mahabah, Imam Ghazali mempunyai istilah ma’rifah, akan tetapi Syaikh Imriti tidak mempunyai istilah khusus bagi orang yang telah sampai tujuannya, akan tetapi syaikh Imriti hanya menggambarkan bahwa orang yang telah sampai tujuannya ini ibarat seorang pemabuk yang berada dikedai minuman arak yang di iringi irama lagu. Syaikh Imriti berkata fa’uribat fi hani bil alhani, (imriti, nadzom ketiga).
Dengan pernyataan inilah penulis menyimpulkan bahwasanya Syaikh Imriti sebagai pemabuk sejati, tiada yang diingatnya lagi selain dzat yang maha abadi, dalam suatu ceramahnya Habib Umar Al Muthohar mengatakan bahwasanya orang yang sudah mencapai derajat ini, yang diingat hanyalah dzat yang maha abadi sehingga ia tidak merasa sakit lagi kalaupun ia dibakar, hal seperti inilah yang tidak bisa dinalar logika, ilmu baratpun belum mampu memecahkan hal ini karena pada umumnya tubuh akan terasa sakit apabila dibakar, kemudian Habib Umar menjelaskan dengan logika dasar, yang diambil dari al-quran, ingkatlah ketika seluruh wanita mesir dikumpulkan dalam suatu perjamuan yang di adakan oleh Zulaikha, ketika mereka semua sedang mengupas apel, keluarlah yusuf, terpana melihat kedatangan yusuf, mereka sampai tidak terasa kalau yang dipotong itu bukan buah apel, akan tetapi jemarinya sendiri, seraya berkata ini bukanlah manusia tetapi malaikat. Orang yang terpana dengan yusuf aja bisa sampai segitunya, tiada sadar dan terasa sakit ketika memotong jemarinya, apalagi orang yang sudah berasyik ria dengan dzat yang maha abadi, tiada yang dirasakan lagi selain sebuah kenikmatan.
Sama seperti kisah seorang sahabat nabi yang tertusuk anak panah, ketika mau dicabut dalam keadaan sadar ia tersasa sakit, kemudian ia meminta dicabut anak panah itu dalam keadaan sholat, kemudian dicabutlah dalam keadaan sholat, dan ia tidak merasakan sakit. Begitulah orang yang telah sampai pada tujuan terakhirnya yaitu bertemu dengan dzat yang maha abadi. Tentunya banyak cara untuk sampai pada tujuan ini, terus bagaimana cara Syaikh Imriti mencapai tujuan akhirnya ini, ? sebagai pemabuk sejati. Kita bisa lihat bagaimana Syaikh Imriti bisa menjadi pemabuk sejati dengan menelaah buku yang menjadi magnum opusnya yaitu nadhom imriti dalam bab muqoddimah.
Beliau (Syaikh Imriti) berkata:
الحمد لله الذي قد وفّقا * للعلم خير خلقه وللتقى
(Segala puji bagi allah yang telah memberikan taufiq kepada sebaik-baiknya mahluqnya pada llmu dan taqwa).
Untuk mengetahui kandungan makna bait pertama pada syi’ir imriti ini, penulis mengamati dari aspek kebahasaanya, menurut Ibnu Hisyam Al-Ansori dalam magnum opusnya yaitu mughni labib, beliau menyebutkan bahwasanya huruf al (ال) yang secara keseluruan mempunyai 10 faidah makna, sedangkan huruf jar li (ل) secara keseluruhan mempunyai 18 faidah makna. Yang kesemua maknanya berbeda-beda, melihat hal ini Grand Syaikh Universitas Al-azhar kairo mesir ke 19, Ibrahim Bajuri, yang terkenal dengan magnum opusnya hasyiah bajuri, yang merupakan komentar (syarah) dari kitab yang sangat popular dikalangan pesantren, fathul qorib mujib, memberikan komentar terhadap bait pertama syi’ir imriti ini, beliau berkata: “bahwasanya kalimat alhamdulillahi pada bait ini merupakan kalimat yang khusus, atau kalimat kepemilikan, kemudian beliau menyimpulkan bahwasanya al yang terdapat pada kata alhamdu merupakan al jinsi yang berarti mencangkup semuanya, dalam artian kata al ini bisa diganti dengan kata kullu, jadi kalau diartian adalah segala pujian, itulah mengapa dalam tradisi di pondok pesantren memaknai kata alhamdu dengan arti sekabahane puji, seluruh pujian tanpa terkecuali, sedangkan lam pada kata lillahi mempunyai faidah ikhtisos yang berarti kekhususan, yang dalam tradisi pesantren diartikan kagungane gusti allah. Jadi bisa diartikan bahwa kalimat alhamdulillahi itu bermakna segala pujian apapun itu pada dasarnya hanyalah khusus milik Allah tiada yang lain, perlu ditegaskan khusus untuk Allah, jadi tiada pujian untuk selain Allah, dengan menyadari dan mengakui kalau pujian hanyalah khusus milik Allah yang maha sempurna, tiada mempunyai kekurangan apapun, oleh karena itu sebagai mahkluk kita tidak berhak menerima pujian dari siapapun, jikalau ada yang mengatakan bahwa ada orang memuji orang karena orang itu bisa ini, bisa itu, maka yang perlu disadari adalah bahwasanya orang memuji orang lain karena orang yang memuji itu tidak mengetahui kekurangan orang yang dipuji, hal ini dikarenakan Allah yang menutupi kekerungan orang yang dipuji tersebut, maka seharusnya pujian itu bukan ditujukan kepada orang tersebut akan tetapi kepada yang menutupi kekurangan tersebut, yaitu dzat yang maha abadi.
Kemudian Ibrahim Bajuri melanjutkan komentarnya mengenai bait pertama ini dengan berkata “Bahwasanya kalimat alhamdulillah ini beralih fungsi dari yang sebelumnya kalimat fi’liyah menjadi kalimat ismiyah, beralihnya fungsi ini menunjukan keabadian dan ketetapan pujian, yang kalimat asalnya adalah hamdan lillah, aritinya hamidtu hamdan lillah, kemudian dimasukan al jinsiyah kepada kata hamdan menjadi alhamdu, dari sini dapat penulis simpulkan apabila pujian itu menggunakan kalimat fi’iliyah itu artinya pujian kepada Allah itu masih terikat oleh waktu, karena pada hakekatnya waktu ini dibagi menjadi tiga, lampau, sekarang dan yang akan datang. Kalau pujian Allah itu hanya diwaktu lampau saja, atau sekarang saja atau yang akan datang saja jelas hal ini adalah mustahil, kalaupun ketiga waktu itu digabungkan tetap saja itu hal yang mustahil, karena Allah itu pada hakikatnya tidak terikat oleh waktu, tiada bermulaan dan tiada berakhiran, perlu kita ketahui bahwasanya pujian kepada Allah itu abadi, tidak terikat dengan waktu sama sekali oleh karena pujian ini menggunakan kalimat ismiyah, yang artinya dzat maha abadi yang tidak terikat oleh waktu.
Kemudian Syaikh Ibrahim Bajuri menyebutkan bahwasanya syarat atau rukun pujian itu ada lima, yang pertama adalah hamid, yaitu orang yang memuji, kedua mahmud yaitu seseorang yang dipuji, yang ketiga adalah mahmud bih yaitu sesuatu yang dipuji, ke empat adalah mahmud alaih yaitu konsekuen dari pujian tersebut, yang kelima adalah sighot yaitu kata-kata yang digunakan untuk memuji, dalam bait pertama ini kita bisa mengetahui bahsanya hamid adalah orang yang membaca kata alhamdulillah atau kita, mahmudnya adalah Allah, mahmudbihnya adalah memberikan taufiq berupa ilmu dan taqwa kepada sebaik-baik mahkluknya, mahmud alaihnya adalah adanya pengkuan bahwa segala pujian itu hanya milik Allah, serta menyadari bahwa taufiq, ilmu, taqwa itu pemberian Allah sehingga tiada boleh bersombong karena mumpunyai ilmu dan sudah menjadi taqwa karena itu semua adalah pemberian dari allah, dengan konsekuen juga adanya kepasrahan total dan pengakuan bahwa kita adalah hambanya Allah, sedangkan shighotnya adalah kalimat pada bait kesatu.
Dari bait kesatu ini juga penulis dapat mengambi ikhtibar bahwasnya untuk menjadi sebaik-baiknya hamba Allah hal yang harus dicari adalah ilmu, dengan adanya ilmu kita bisa menjadi taqwa kepada Allah swt, serta kita harus mempunyai keyakinan bahwasanya ilmu yang kita peroleh itu merupakan hasil dari taufiq atau pemberian Allah, bukan karena usaha kita. Kita juga harus memperhatikan bahwa kata ilmu itu juga disandingkan dengan taqwa, banyak orang bertambah ilmunya tapi malah jauh dari ketakwaan kepada Allah, oleh karena itu carilah ilmu yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, yaitu ilmu yang memberikan rasa taqut dan ketaqwaan kepada Allah. Perlu diketahui juga bahwasanya taufiq adalah pemberian kekuatan dalam menjalani ketaatan dan kemudahan dalam menggapai kebajikan, sedangkan taqwa adalah menjalankan semua perintah Allah dan menjahui segala laranganya.
Jadi perlu diingat bahwasanya segala pujian itu khusus milik Allah, KH Abdurahman Wahid berkata hamba yang masih terganggu dengan pujian dan hinaan berarti masih hamba yang amatiran. Itu artinya jikalau ada hamba yang masih merasa senang dengan pujian dan masih merasa sedih dengan hinaan masih menjadi hamba yang amatiran, kualitas kehambaanya masih di level bawah, hal ini merupakan tabiat atau watak dasar seorang manusia, senang dipuji dan sedih kalau dihina, oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas kehambaan dan untuk menjadi pemabuk sejati yaitu dengan menyadari lagi bahwa pujian itu hanya milik Allah, dan hinaan dan ujian itulah yang akan mengangkat derajat serta meningkatkan kualitas kehambaan kita, tanpa adanya kesadaran dalam hati mengenai hal ini sulit rasanya menjadi pemabuk sejati seperti Syaikh Imriti.
Untuk mengetahui kandungan makna bait pertama pada syi’ir imriti ini, penulis mengamati dari aspek kebahasaanya, menurut Ibnu Hisyam Al-Ansori dalam magnum opusnya yaitu mughni labib, beliau menyebutkan bahwasanya huruf al (ال) yang secara keseluruan mempunyai 10 faidah makna, sedangkan huruf jar li (ل) secara keseluruhan mempunyai 18 faidah makna. Yang kesemua maknanya berbeda-beda, melihat hal ini Grand Syaikh Universitas Al-azhar kairo mesir ke 19, Ibrahim Bajuri, yang terkenal dengan magnum opusnya hasyiah bajuri, yang merupakan komentar (syarah) dari kitab yang sangat popular dikalangan pesantren, fathul qorib mujib, memberikan komentar terhadap bait pertama syi’ir imriti ini, beliau berkata: “bahwasanya kalimat alhamdulillahi pada bait ini merupakan kalimat yang khusus, atau kalimat kepemilikan, kemudian beliau menyimpulkan bahwasanya al yang terdapat pada kata alhamdu merupakan al jinsi yang berarti mencangkup semuanya, dalam artian kata al ini bisa diganti dengan kata kullu, jadi kalau diartian adalah segala pujian, itulah mengapa dalam tradisi di pondok pesantren memaknai kata alhamdu dengan arti sekabahane puji, seluruh pujian tanpa terkecuali, sedangkan lam pada kata lillahi mempunyai faidah ikhtisos yang berarti kekhususan, yang dalam tradisi pesantren diartikan kagungane gusti allah. Jadi bisa diartikan bahwa kalimat alhamdulillahi itu bermakna segala pujian apapun itu pada dasarnya hanyalah khusus milik Allah tiada yang lain, perlu ditegaskan khusus untuk Allah, jadi tiada pujian untuk selain Allah, dengan menyadari dan mengakui kalau pujian hanyalah khusus milik Allah yang maha sempurna, tiada mempunyai kekurangan apapun, oleh karena itu sebagai mahkluk kita tidak berhak menerima pujian dari siapapun, jikalau ada yang mengatakan bahwa ada orang memuji orang karena orang itu bisa ini, bisa itu, maka yang perlu disadari adalah bahwasanya orang memuji orang lain karena orang yang memuji itu tidak mengetahui kekurangan orang yang dipuji, hal ini dikarenakan Allah yang menutupi kekerungan orang yang dipuji tersebut, maka seharusnya pujian itu bukan ditujukan kepada orang tersebut akan tetapi kepada yang menutupi kekurangan tersebut, yaitu dzat yang maha abadi.
Kemudian Ibrahim Bajuri melanjutkan komentarnya mengenai bait pertama ini dengan berkata “Bahwasanya kalimat alhamdulillah ini beralih fungsi dari yang sebelumnya kalimat fi’liyah menjadi kalimat ismiyah, beralihnya fungsi ini menunjukan keabadian dan ketetapan pujian, yang kalimat asalnya adalah hamdan lillah, aritinya hamidtu hamdan lillah, kemudian dimasukan al jinsiyah kepada kata hamdan menjadi alhamdu, dari sini dapat penulis simpulkan apabila pujian itu menggunakan kalimat fi’iliyah itu artinya pujian kepada Allah itu masih terikat oleh waktu, karena pada hakekatnya waktu ini dibagi menjadi tiga, lampau, sekarang dan yang akan datang. Kalau pujian Allah itu hanya diwaktu lampau saja, atau sekarang saja atau yang akan datang saja jelas hal ini adalah mustahil, kalaupun ketiga waktu itu digabungkan tetap saja itu hal yang mustahil, karena Allah itu pada hakikatnya tidak terikat oleh waktu, tiada bermulaan dan tiada berakhiran, perlu kita ketahui bahwasanya pujian kepada Allah itu abadi, tidak terikat dengan waktu sama sekali oleh karena pujian ini menggunakan kalimat ismiyah, yang artinya dzat maha abadi yang tidak terikat oleh waktu.
Kemudian Syaikh Ibrahim Bajuri menyebutkan bahwasanya syarat atau rukun pujian itu ada lima, yang pertama adalah hamid, yaitu orang yang memuji, kedua mahmud yaitu seseorang yang dipuji, yang ketiga adalah mahmud bih yaitu sesuatu yang dipuji, ke empat adalah mahmud alaih yaitu konsekuen dari pujian tersebut, yang kelima adalah sighot yaitu kata-kata yang digunakan untuk memuji, dalam bait pertama ini kita bisa mengetahui bahsanya hamid adalah orang yang membaca kata alhamdulillah atau kita, mahmudnya adalah Allah, mahmudbihnya adalah memberikan taufiq berupa ilmu dan taqwa kepada sebaik-baik mahkluknya, mahmud alaihnya adalah adanya pengkuan bahwa segala pujian itu hanya milik Allah, serta menyadari bahwa taufiq, ilmu, taqwa itu pemberian Allah sehingga tiada boleh bersombong karena mumpunyai ilmu dan sudah menjadi taqwa karena itu semua adalah pemberian dari allah, dengan konsekuen juga adanya kepasrahan total dan pengakuan bahwa kita adalah hambanya Allah, sedangkan shighotnya adalah kalimat pada bait kesatu.
Dari bait kesatu ini juga penulis dapat mengambi ikhtibar bahwasnya untuk menjadi sebaik-baiknya hamba Allah hal yang harus dicari adalah ilmu, dengan adanya ilmu kita bisa menjadi taqwa kepada Allah swt, serta kita harus mempunyai keyakinan bahwasanya ilmu yang kita peroleh itu merupakan hasil dari taufiq atau pemberian Allah, bukan karena usaha kita. Kita juga harus memperhatikan bahwa kata ilmu itu juga disandingkan dengan taqwa, banyak orang bertambah ilmunya tapi malah jauh dari ketakwaan kepada Allah, oleh karena itu carilah ilmu yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, yaitu ilmu yang memberikan rasa taqut dan ketaqwaan kepada Allah. Perlu diketahui juga bahwasanya taufiq adalah pemberian kekuatan dalam menjalani ketaatan dan kemudahan dalam menggapai kebajikan, sedangkan taqwa adalah menjalankan semua perintah Allah dan menjahui segala laranganya.
Jadi perlu diingat bahwasanya segala pujian itu khusus milik Allah, KH Abdurahman Wahid berkata hamba yang masih terganggu dengan pujian dan hinaan berarti masih hamba yang amatiran. Itu artinya jikalau ada hamba yang masih merasa senang dengan pujian dan masih merasa sedih dengan hinaan masih menjadi hamba yang amatiran, kualitas kehambaanya masih di level bawah, hal ini merupakan tabiat atau watak dasar seorang manusia, senang dipuji dan sedih kalau dihina, oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas kehambaan dan untuk menjadi pemabuk sejati yaitu dengan menyadari lagi bahwa pujian itu hanya milik Allah, dan hinaan dan ujian itulah yang akan mengangkat derajat serta meningkatkan kualitas kehambaan kita, tanpa adanya kesadaran dalam hati mengenai hal ini sulit rasanya menjadi pemabuk sejati seperti Syaikh Imriti.
حتى نحت قلوبهم لنحوه * فمن عظيم شأنه لم تحوه
(sehingga QOLBU mereka menuju kepada Allah, akan tetapi karena keagungan dzatNya Allah mereka tidak dapat menjangkau dan melipuntinya)
Bait kedua ini menjelaskan bahwasanya karena lantaran taufiq, ilmu dan ketaqwaan yang diberikan Allah kepada hambanya, maka hati mereka berusaha mendekat kepada sang pemberi taufiq, orang-orang yang sudah diberi ilmu dan taufiq akan selalu bergerak menuju dan mencarinya karena adanya keyaqinan dalam hati mereka bahwasanya kenikmatan tertinggi seorang mahluk adalah bertemu dengan sang kholik, jikalau sang mahluk sudah cukup bahagia dengan pemberian berupa makluk juga berarti adanya yang harus diperbaiki dalam hatinya, oleh karena itu para ulama telah berma’rifat kepada allah hatinya tiada pun takut dan bersedih terhadap apapun yang menimpanya didunia.
Sebenarnya kita sebagai manusia yaitu sebagai mahluk Allah sama-sama mencari Tuhan, akan tetapi cara pencarianya berbeda, ilmuan barat dengan melakukan penelitian-penelitian, sedangkan orang islam dengan melakukan pembersihan hati, sehingga ada yang bisa mengetahui hakekat dzat tuhan melalui pengalaman spiritualnya, sehingga munculah istilah hulul, ittihat, ma’rifat dll dalam dunia islam.
Sebenarnya upaya pencarian tuhan telah berlangsung sejak berabad-abad sebelum masehi, sebagai contoh adalah nabiyullah Musa yang ingin melihat Dzat Allah, Nabi Musa terus bermunajat untuk bisa melihat Allah, setelah itu Allah memerintahkan Nabi Musa untuk melihat gunung tursina, gunung tursina hancur lebur untuk ditempati Dzat Allah, dengan itu nabi musa sadar. Dengan dasar ini Syaikh imriti pun berkata dan menegaskan dalam bait kedua ini, فمن عظيم شأنه لم تحوه karena keagungan dzat Tuhan setiap hati manusia tidak akan mampu menjangkaunya atau meliputinya, kata عظيم شأنه menunjukan keagungan, kemahasempurnaan dzat Tuhan, sehingga tiada yang bisa menjangkaunya walaupun dilakukan beribu-ribu penelitian.
Bait kedua ini menjelaskan bahwasanya karena lantaran taufiq, ilmu dan ketaqwaan yang diberikan Allah kepada hambanya, maka hati mereka berusaha mendekat kepada sang pemberi taufiq, orang-orang yang sudah diberi ilmu dan taufiq akan selalu bergerak menuju dan mencarinya karena adanya keyaqinan dalam hati mereka bahwasanya kenikmatan tertinggi seorang mahluk adalah bertemu dengan sang kholik, jikalau sang mahluk sudah cukup bahagia dengan pemberian berupa makluk juga berarti adanya yang harus diperbaiki dalam hatinya, oleh karena itu para ulama telah berma’rifat kepada allah hatinya tiada pun takut dan bersedih terhadap apapun yang menimpanya didunia.
Sebenarnya kita sebagai manusia yaitu sebagai mahluk Allah sama-sama mencari Tuhan, akan tetapi cara pencarianya berbeda, ilmuan barat dengan melakukan penelitian-penelitian, sedangkan orang islam dengan melakukan pembersihan hati, sehingga ada yang bisa mengetahui hakekat dzat tuhan melalui pengalaman spiritualnya, sehingga munculah istilah hulul, ittihat, ma’rifat dll dalam dunia islam.
Sebenarnya upaya pencarian tuhan telah berlangsung sejak berabad-abad sebelum masehi, sebagai contoh adalah nabiyullah Musa yang ingin melihat Dzat Allah, Nabi Musa terus bermunajat untuk bisa melihat Allah, setelah itu Allah memerintahkan Nabi Musa untuk melihat gunung tursina, gunung tursina hancur lebur untuk ditempati Dzat Allah, dengan itu nabi musa sadar. Dengan dasar ini Syaikh imriti pun berkata dan menegaskan dalam bait kedua ini, فمن عظيم شأنه لم تحوه karena keagungan dzat Tuhan setiap hati manusia tidak akan mampu menjangkaunya atau meliputinya, kata عظيم شأنه menunjukan keagungan, kemahasempurnaan dzat Tuhan, sehingga tiada yang bisa menjangkaunya walaupun dilakukan beribu-ribu penelitian.
فأشربت معنى ضمير الشان * فأعربت في الحان بالألحان
(lalu dicampurkanlah kedalam hati mereka rahasia makna dhomir sya’ni (kalimat tauhid) sehingga ditampakan kepadanya kecintaan seperti pemabuk yang menikmati arak dan diringi lagu-lagu)
Karena hati manusia tiada akan pernah meliputi dan menjangkau Dzat Allah, maka Allah mencampur hati para hambanya dengan dhomir sya’ninya, atau rahasia keagungan DzatNya, sehingga dengan percampuran ini, hati mereka menjadi cinta dan mahabbah kepada Allah, sehingga mereka tenggelam dalam lautan cinta, lupa terhadap sesuatu selain Allah, mabuk kepayang kepada DzatNya, Syaikh ibrohim bajuri memberikan komentar terhadap bait ketiga ini, beliau berkata bahwa kata فأشربت yang berarti pencampuran seperti bercampurnya kain dengan sumba pewarna, atau seperti bercampurnya warna dengan warna, diibartakan seperti bercampurnya warna putih dan merah, kedua warna ini bercampur lebur menjadi satu, kemudian beliau menerangkan bahwa dhomir sya’ni adalah kalimat tauhid, yang intinya penegasan yang kuat bahwa tiada Tuhan kecuali Allah, tidak kekuatuan untuk melaksanakan perintahnya, dan tiada daya untuk menjauhi laranganya kecuali dari kekuatan Allah.
Penulis menginterpretasi bait ini, bahwa di dunia ini tiada yang bisa mencari dan menemukan Dzat Allah yang عظيم شأنه, kemudian Allah menampakan rahasia keangagungan dzatnya dengan istilah ضمير الشان. Dengan dicampurkan hati para hambanya dengan rahasia keagungan dhomir sya’ni, maka jadi tampaklah rahasia dhomir sya’ni dalam jiwa para hambanya sehingga ia menjadi mabuk kepayang kepada Allah, seperti pemabuk yang meminum arak dikedai serta diiringi alunan lagu-lagu.
Dari sini penulis penyimpulkan bahwa sampainya seorang hamba kepada Dzat Yang Maha Abadi itu bukan karena amal ibadahnya, bukan karena usaha riyadhohnya, akan tetapi karena rahmat dan kasih sayang Allah, sehingga karena kasih sayangnya tersebut, dicampurkanlah hati hamba tersebut dengan rahasianya sehingga tampaklah pada hamba tersebut kesempurnaan makrifahnya.
Karena hati manusia tiada akan pernah meliputi dan menjangkau Dzat Allah, maka Allah mencampur hati para hambanya dengan dhomir sya’ninya, atau rahasia keagungan DzatNya, sehingga dengan percampuran ini, hati mereka menjadi cinta dan mahabbah kepada Allah, sehingga mereka tenggelam dalam lautan cinta, lupa terhadap sesuatu selain Allah, mabuk kepayang kepada DzatNya, Syaikh ibrohim bajuri memberikan komentar terhadap bait ketiga ini, beliau berkata bahwa kata فأشربت yang berarti pencampuran seperti bercampurnya kain dengan sumba pewarna, atau seperti bercampurnya warna dengan warna, diibartakan seperti bercampurnya warna putih dan merah, kedua warna ini bercampur lebur menjadi satu, kemudian beliau menerangkan bahwa dhomir sya’ni adalah kalimat tauhid, yang intinya penegasan yang kuat bahwa tiada Tuhan kecuali Allah, tidak kekuatuan untuk melaksanakan perintahnya, dan tiada daya untuk menjauhi laranganya kecuali dari kekuatan Allah.
Penulis menginterpretasi bait ini, bahwa di dunia ini tiada yang bisa mencari dan menemukan Dzat Allah yang عظيم شأنه, kemudian Allah menampakan rahasia keangagungan dzatnya dengan istilah ضمير الشان. Dengan dicampurkan hati para hambanya dengan rahasia keagungan dhomir sya’ni, maka jadi tampaklah rahasia dhomir sya’ni dalam jiwa para hambanya sehingga ia menjadi mabuk kepayang kepada Allah, seperti pemabuk yang meminum arak dikedai serta diiringi alunan lagu-lagu.
Dari sini penulis penyimpulkan bahwa sampainya seorang hamba kepada Dzat Yang Maha Abadi itu bukan karena amal ibadahnya, bukan karena usaha riyadhohnya, akan tetapi karena rahmat dan kasih sayang Allah, sehingga karena kasih sayangnya tersebut, dicampurkanlah hati hamba tersebut dengan rahasianya sehingga tampaklah pada hamba tersebut kesempurnaan makrifahnya.
Alfaaatihah....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar